(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan-mu, lalu diperkenankannya bagimu, Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal:9)

 

Akhir-akhir ini eksistensi dari galau begitu melejit, tidak hanya dalam aktivitas keseharian di dunia ‘nyata’ namun juga di dunia ‘maya’. Beberapa status di jejaring sosial tak jauh-jauh dari kata tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata galau sendiri diartikan sebagai kacau tidak keruan (pikiran). Sudah mafhum di kalangan umum, galau didefinisikan sebagai determinan dari sifat sedih, gundah, bimbang, gelisah, resah dan sebagainya. Dari berbagai definisi di atas bisa dimengerti bahwa galau identik dengan kondisi seseorang dengan perasaan yang tidak karuan serta bingung dalam menghadapi masalah yang dialaminya.

Galau sendiri tidak pandang bulu, para aktivis dakwah pun bisa menjadi korbannya.

“Afwan Ukh.. saya sedang galau, belum bisa fokus.”

“Mbak.. dikejar deadline, amanah numpuk *galau mode on

“Akhi, saya butuh tausiyah.. galau nih!”

Serta masih banyak lagi berbagai pernyataan yang dilontarkan para ikhwah.

Jika ditilik lebih lanjut para korban galau ini berujung pada kebutuhan sebuah solusi jika tidak ingin dikatakan secuil perhatian atau suatu apresiasi. Sebab ia cenderung merasa menjadi pribadi dengan masalah terbesar di dunia ini dan hadir sebagai sosok yang sedang putus asa. Riset menunjukkan bahwa kesulitan atau tantangan hidup yang dihadapi seorang individu meningkat dari 7 hingga 23 kali selama sepuluh tahun terakhir. Dari sinilah dibutuhkan peran Adversity Quotient (AQ).

Dalam ilmu psikologi dinyatakan bahwa kecerdasan seseorang dinilai dari IQ (Intelligent Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient) juga Adversity Quotient (AQ). Seorang mantan direktur PT. Indofood menguraikan bahwa alasan bangsa kita tidak maju bukan karena kita tidak cukup pintar (IQ), kurang peka dan sosial (EQ), ataupun kurang spiritual (SQ).  Ia mengatakan bahwa satu-satunya alasan mengapa Indonesia dengan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah tidak bisa bertarung dalam percaturan dunia internasional adalah bahwa kita memiliki AQ yang sangat rendah.

Secara sederhana AQ didefinisikan sebagai ketahanan atau resistensi seorang individu dalam menghadapi permasalahan yang terjadi dalam hidupnya, mengendalikan dan mengambil peluang dari setiap kesulitan yang dihadapinya, dan ketahanan dalam menyelesaikan suatu masalah. Masyarakat kita mudah menyerah, berbeda dengan bangsa maju lainnya yang tingkat perjuangan menghadapi tantangannya tinggi.

Boleh jadi, galau adalah bentuk ekspresi atas tidak tercapainya idealisme kita. Azzam dan niat yang semula dilafadzkan lillahi ta’ala terkadang berbelok arah. Mengharap perhatian manusia, haus popularitas, senang dipuji namun anti kritik. Memang bukanlah hal yang mudah mengompakkan niat sebagai produk batin dengan tindakan nyata sebagai produk lahir. Niat itu tidak bisa diindra, apakah kotak, bulat, lonjong dsb. Namun, suatu tindakan akan bermanuver hebat ketika niatan yang ada juga berubah. Dengan demikian begitu berharga suatu niat sampai-sampai ia diletakkan dalam urutan pertama Hadist Arba’in.

Ibarat dua sisi mata uang, niat dan hati tak bisa dipisahkan. Karenannya diperlukan pasokan bekal kepada keduanya sebagai syarat agar tetap terpeliharanya tujuan awal kita. Syarat tersebut berupa perbaikan pemahaman (tajwidul fahm) yang hasilnya nanti adalah mengorientasikan seluruh aktivitas kita hanya kepada Allah ta’ala (rabbaniyatul ittijah). Sehingga logika yang digunakan adalah logika keimanan, bahwa semua yang terjadi adalah menurut ketentuan Allah—bisa jadi apa yang baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah. Ketika logika berpikir kemanusiaan yang digunakan, maslah datang bertubi-tubi, harapan tak tercapai, frustasi karena kegagalan dan ujung-ujungnya adalah galau.

Galau tidak pernah lahir dengan sendirinya. Ia ada karena diciptakan oleh diri kita sendiri. Masalah, tantangan dan rintangan hidup adalah fitrah. Semoga galau yang hadir bukan semata-mata bentuk keinginan akan apresiasi manusia. Bukan pula karena keraguan akan ketetapan dari-Nya. Biarlah ia bermuara sebagai sarana bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Mari berusaha untuk tidak merepetisi, larut atau bahkan menghayati galau dalam hati kita masing-masing. Seperti disebutkan di awal tulisan ini, “-Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu-“ maka yakinlah bersama kesulitan pasti ada kemudahan, optimislah dalam menapaki hidup ini. Seorang Einstein yang notabene bukan muslim mampu memahami dengan baik “the world we have created is a product of our way of thinking; dunia yang kita ciptakan adalah hasil dari cara kita berfikir.” Terlebih bagi seorang muslim yang memiliki Allah sebagai sandaran, hendaknya kita selau berfikir bahwa segala ketetapan-Nya adalah yang terbaik dan yakinlah Allah senantiasa mengikuti persangkaan para hamba-Nya. So, don’t be galau!

 

 

penulis: Talitha H*

*Bergiat di FLP Solo

Kos An-Nisa 2, 22 Syawal 1432H

Reminder for my self

 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration