Puasa Ramadhan Lebih dari 30 Hari?

Bagaimana mungkin puasa Ramadhan lebih dari 30 hari? Dan apakah juga mungkin puasa kurang dari 29 hari? Bukankah bulan qomariyah/hijriyah itu maksimal hanya 30 hari, dan tak pernah kurang dari 29 hari?

Kasusnya begini… Ada seseorang pada tanggal 30 Ramadhan berada di Jerman, telah berpuasa genap 30 hari. Lantas pada hari itu juga (30 Ramadhan) dia pulang ke Indonesia. Dikiranya setelah esoknya sampai di Indonesia ‘mestinya’ dia akan menikmati ketupat lebaran, 1 Syawal. Tapi kenyataannya tak begitu. Mengapa demikian? Karena umumnya jatuhnya awal Ramadhan di Jerman dan Indonesia berbeda satu hari (Jerman satu hari lebih dulu ketimbang Indonesia).

Terus bagaimana jika benar terjadi demikian? Apakah kita harus berpuasa juga, walaupun sudah berpuasa genap 30 hari?

Jawaban :
Pertama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jumlah hari dalam satu bulan qomariyah tidak mungkin kurang dari 29 (dua puluh sembilan) hari. Maka dalam teori fikih, tidak diperbolehkan seseorang melakukan puasa Ramadhan kurang dari 29 hari. Kalau kasus di atas dibalik, di mana ada seseorang bepergian dari Indonesia ke Jerman, maka jika Ramadhan di Jerman ternyata hanya 29 hari, berarti orang tersebut hanya melakukan puasa 28 hari saja. Kalau terjadi demikian ini, dia wajib menambah puasa satu hari setelah hari ‘ied, karena bulan qomariyah selamanya tidak pernah kurang dari 29 hari.

Ketentuan kedua adalah kewajiban “menghormati waktu” (hurmaatil waqti) setempat. Misalnya, jika ada seseorang yang datang dari Jerman –telah berpuasa 30 hari di Jerman– yang malakukan perjalanan ke Indonesia pada malam lebaran, kemudian sesampainya di Indonesia ternyata ia masih menemui orang-orang masih pada berpuasa karena hari itu masih siang hari tanggal 30 Ramadhan (menurut ketentuan Indonesia), maka ia berkewajiban melakukan imsak (menahan dari apa saja yang membatalkan puasa), walau sesungguhnya hari terakhir ini tidak dihitung sebagai bulan Ramadhan baginya, karena tidak dimungkinkannya puasa setengah hari. Dia harus “menghormati waktu”, yakni menghormati ketentuan tempat Indonesia.

Sementara kalau ia sampai di Indonesia sebelum waktu Subuh (karena barangkali ia berangkat dari Jerman jam 5 pagi waktu Jerman), maka ia berkewajiban melaksanakan puasa esok harinya, karena keberadaannya di Indonesia mengharuskannya mentaati segala peraturan-peraturannya. Namun, keharusan berpuasa itu jika memang puasa yang telah ia lakukan di Jerman hanya 29 hari.

Adapun kalau telah genap 30 hari, para ulama khilaf (berselisih pendapat) dalam menentukannya: sebagian berpendapat, wajib baginya berpuasa, melihat keberadaannya di satu negara yang menetapkan hari tersebut sebagai hari terakhir Ramadhan (walau ini berarti ia harus melaksanakan puasa Ramadhan selama 31 hari). Dan sebagian yang lain tidak mewajibkan bahkan mengharamkannya, karena tidak mungkin ada bulan qomariyah 31 hari.

Tapi ini bukan berarti ia lantas bebas begitu saja dari kewajiban imsak (menahan dari apa saja yang membatalkan puasa) sebagaimana orang berpuasa, karena dalam fikih islam, “menghormati waktu” adalah hal yang amat penting. Artinya, hari itu tidak merupakan permulaan bulan Syawal, baginya. Ia tetap merupakan hari terakhir bulan Ramadhan, hanya ia tidak wajib melakukan puasa karena tidak mungkin ada 31 hari dalam satu bulan.

Menghormati waktu demikian ini, juga berlaku pada seseorang yang melakukan perjalanan pada hari terakhir bulan Ramadhan, kemudian pada hari yang sama, ia sampai di negara tetangga yang menetapkannya sebagai awal Syawwal (ied). Baginya, wajib membatalkan puasa, kemudian jika puasanya kurang dari duapuluh sembilan hari, maka ia wajib menambah satu hari setelah ied, dan jika puasanya telah mencapai 29 hari, ia tidak berkewajiban menambah lagi.

Kisah puasa demikian ini pernah telah terbahas sejak masa dinasti Mu’awiyah.

pesantrenvirtual.com

 

 

Tetap Berpuasa Dalam Perjalanan Di Bulan Ramadhan

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam perjalanan (mudik) di bulan Ramadhan saya memutuskan untuk tetap berpuasa (tidak mengambil rukhsah). Alasan saya adalah karena apabila saya harus mengganti puasa diluar bulan Ramadhan, adalah lebih berat dibandingkan apabila saya tetap berpuasa di bulan Ramadhan (sekalipun saya sedang berstatus sebagi musafir). Perlu diketahui bahwa dalam perjalanan ini saya menggunakan kendaraan pribadi, sehingga tidak memberatkan saya untuk menunaikan puasa. Apakah keputusan saya ini merupakan kesombongan saya terhadap Allah SWT, karena menolak rukhsah ?

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
M. Nuruzzaman – Vila Bogor Indah H5/14, Bogor

Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Dalam masalah kebolehan tidak berpuasa di bulan Ramadhan bagi seorang musafir, para ulama umumnya memberikan kebebasan. Apakah kita mau berbuka ataukah mau tetap berpuasa. Dasarnya adalah firman Allah SWT :

Dan siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah : )

Selain itu ada hadits nabawi yang menguatan hal itu.

Dari Abi Said al-Khudri RA. Berkata, ”Dulu kami beperang bersama Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Diantara kami ada yang tetap berpuasa dan ada yang berbuka. …Mereka memandang bahwa siapa yang kuat untuk tetap berpuasa, maka lebih baik. (HR Muslim)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Syariahonline
Pusat Konsultasi Syariah

 

Vicks membatalkan puasa?

Assalamualaikum Wr.Wb

Saya mau menanyakan apakah kalau kita menghirup sesuatu selama bulan puasa ini misalnya kalau lagi Flu menghirup Vicks untuk melegakan pernapasan, boleh atau tidak?. Satu lagi, boleh/tidak gunting kuku/rambut selama bulan ramadhan ini. Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. WB

Piepiet – Jaktim

Jawab:
Diantara yang bisa membatalkan puasa adalah memasukkan sesuatu (baik berupa makanan-minuman, atau tidak) ke dalam perut dengan sengaja, meskipun hanya sedikit, melalui hidung. Bau-bau yang menyegarkan seperti bau masakan, tepung yang halus, debu, dll, yang dihirup secara sengaja dan berlebihan, akan membatalkan puasa. Vicks yang Anda maksud itu juga masuk dalam kategori ini. Adapun dalam keadaan kesulitan menghindarinya seperti debu di jalanan atau bau masakan yang tidak memungkinkan menghindarinya, maka tidak membatalkan puasa, atau tidak sengaja melakukannya dan terpaksa, maka tidak membatalkan puasa.

Selanjutnya, tentang gunting kuku dan cukur rambut pada saat berpuasa, boleh-boleh saja dilakukan selama tidak ada larangan melakukannya seperti dalam keadaan haid dll.

 

Mutamakkin Billa

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Yth. Pengasuh pesantren virtual,

Saya berpendapat bau-bauan tidaklah membatalkan puasa. Saluran pernafasan berbeda dengan saluran pencernaan. Bau yg dibau lewat hidung, larinya ke paru-paru, bukan ke perut. Demikian sepengetahuan saya. Mohon tanggapan dari Bapak pengasuh Pesantren Virtual.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Dedy

Jawab:
Cak Dedy, apa yg membatalkan puasa tidak hanya dikarenakan masuknya sesuatu ke dalam perut, saluran pencernaan, atau rongga dalam badan lainnya. Namun puasa itu, yg terutama, adalah ajaran untuk menahan diri (imsaak) dari apa saja yang menyenangkan nafsu. Seperti menghisap Vicks secara berlebihan. Berlebihan di sini jangan diartikan sebagai sesuatu yang negatif. Karena yang pakai Vicks itu toh orang yang sedang flu dengan maksud melegakan pernafasan (bukan suatu yang negatif). Tapi berlebihan di sini adalah adanya faktor kesengajaan dan terus terulang-ulang. Lain lagi, misalnya, dengan orang yang mencium bau roti, karena ia berada di dekat pabrik roti, puasanya tidak batal, selama keadaan menuntut ia berada di situ. Namun, jika ia sengaja mencium bau roti dengan cara menempelkannya ke hidungnya dengan sengaja, dan begitu ia menikmati apa yang dilakukannya itu, maka batallah puasanya.

Nah, demikian juga dengan Vicks. Karena penggunaan Vicks lazimnya ditempelkan ke hidung, disedot, dinikmati. Sama halnya dengan menghirup wewangian yang langsung ditempelkan ke hidung.
pesantrenvirtual.com

 

 

Waktu Makan Sahur

Mohon jawaban pertanyaan dari Pak KH. A. Mustofa Bisri. Begini, Pak Kiai: pada waktu puasa, kadang-kadang saya makan sahur pukul sebelas malam, menjelang tidur. Padahal umumnya orang makan sahur setelah tengah malam, bahkan menjelang imsak. Sebetulnya mana yang benar? Atau kapan yang paling baik kita makan sahur?

Ferza Gautama – Jl. Ganesha, Kudus

Jawab:
Dik Ferza, seperti kita ketahui, agama kita itu sering disebut agama fitrah. Agama yang cocok dengan naluri kita. Agama yang tidak memberatkan kita, manusia. Salah satu contohnya ya kewajiban puasa itu. Coba perhatikan anjuran atau yang dianggap utama dalam puasa itu. Dalam puasa, bukan saja dianjurkan berbuka dan sahur; tapi malah disunnahkan untuk cepat-cepat berbuka dan mengakhirkan sahur. Seperti Sabda Rasulullah Saw.:

“Berbahagialah selalu orang-orang yang menyegerakan berbuka.” (HR. Muslim dari Sahl bin Sa’d r.a.)

“Umatku selalu di dalam kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahurnya.” (HR. Ahmad)

Kalau dipikir-pikir ini kan memang “mempertimbangkan” naluri kita. Setelah lapar dan haus seharian, kita disuruh cepat-cepat berbuka. Dan agar kita lebih tahan berpuasa, kita dianjurkan mengakhirkan sahur.

Sahur jam 10 atau jam 11 malam ya boleh-boleh saja, tapi untuk persiapan siangnya, kan enakan sahur di akhir malam. Dapat kesunnahan lagi. Ya kan? Selamat Berpuasa Ramadhan.
KH. A. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com

 

 

Antara Praktek Zaman Rasul dengan Jadwal Imsakiyah

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pak Ustadz. Sekarang khan kita kalo berbuka dan sahur berdasarkan jadwal imsakiyah yang banyak beredar. Tapi kalau dulu khan rasul dan sahabat berbuka dan sahur dengan mengamati langsung keadaan langit. Misalnya bersahur ketika sudah jelas perbedaan benang putih dan hitam. Nah, bagaimana dengan jadwal imsakiyah itu? Apakah itu termasuk hal yang diperbolehkan oleh syariat? Jazakallahu khoir.
Budi H

Jawab:
Idealnya memang harus ada yang memperhatikan gejala alam dalam menentukan waktu-waktu ibadah, baik waktu puasa maupun waktu shalat. Namun bukan berarti semua orang harus menatap ke langit setiap mau shalat atau mau masuk puasa. Tentu hal ini akan sangat memberatkan.

Kita bisa menentukan waktu-waktu shalat dan puasa berdasarkan informasi yang kita terima dari mereka yang memang bisa memiliki akses untuk mengamati langsung. Dan boleh juga dari jadwal yang sudah dibuat dengan perhitungan yang sedemikian detail.

Dalam menentukan jadwal shalat, kita dibenarkan bersandar kepada ilmu hisab. Sebab ilmu hisab ini lahir dari hasil penghitungan yang sudah teruji dengan baik dan bisa dibuktikan secara ilmiyah.

Keadaannya sedikit berbeda dengan penggunaan ilmu hisab dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawwal. Sebab khusus untuk menentukan kedua waktu itu, ada hadits-hadits yang secara eksplisit memerintahkan kita untuk melakukan pengamatan bulan (ru’yatul hilal).

Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.:
Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi 30 hari. (HR Bukhari dan Muslim).

Bedanya dengan menentukan waktu shalat adalah bahwa Rasulullah tidak memerintahkan untuk melakukan ru’yah secara khusus. Waktu-waktu shalat itu hanya disebutkan gejala alamnya saja tanpa ada perintah khusus untuk melakukan ru’yah. Sehingga bila kita bisa tahu dengan melakukan penghitungan secara matematis adanya gejala alam tertentu yang menandakan masuknya waktu shalat tertentu tanpa harus melihatnya langsung, sudah dianggap memenuhi kriteria.

Sebaliknya, untuk menentukan awal puasa dan lebaran, tidak cukup hanya sekedar mengetahui secara perhitungan matematis, sebab Nabi SAW memang memerintahkan untuk meru’yat. Wassalam.
eramuslim.com

 

 

Berkumur di siang hari saat berpuasa, dll

Ustadz mohon nasehatnya :
Apabila kita sedang puasa bolehkah kita tidak berkumur (dalam berwudhu) karena takut air tertelan? Apabila kita sedang salat bolehkah kita menelan ludah?

Di kebanyakan mesjid di Indonesia sekarang ini kan kurang terjaga kebersihannya, jadi kadang kadang kita suka ragu akan keabsahan wudhu kita. Bisa diterangkan perbedaan kotor saja dengan najis? Dan apabila kita khawatir terkena najis, apakah kita harus wudhu lagi?

Jazakallah khairan katsiroo.
Muhamadian – Cibubur Indah

Jawab:
Persoalan tidak berkumur, ya tentu boleh-boleh saja. Karena berkumur itu hanyalah sunat hukumnya. Apalagi di bulan puasa. Syafi’iyah justru memakruhkan berkumur (baik saat berwudhu atau tidak) bagi orang berpuasa, setelah lewat tengah hari. Karena kumur-kumur bisa menghilangkan bau mulut (khaluuf). “Bau mulutnya (khaluuf) orang puasa nanti di hari kiamat lebih utama bagi Allah dari minyak Kasturi”.

Namun ada juga yang tidak memakruhkan, hukumnya mubah (boleh). Menurut pendapat ini, khaluuf itu bersumber dari dalam, tidak semata-mata dari mulut. Karenanya, kalaupun kita menggosok gigi atau berkumur, tetap saja khaluuf itu ada.

Menelan ludah saat salat boleh saja. Asal bisa memastikan ludahnya bersih dari sisa-sisa makanan atau minuman. Makanya dianjurkan kalau habis makan atau minum (sesuatu yang ada rasanya) untuk berkumur-kumur dulu, sampai sisa-sisanya bersih. Kalau bersih kan salatnya tambah khusyuk. Soalnya, biasanya, sisa-sisa makanan atau minuman itu mempercepat keluarnya ludah, hingga kita tidak mudah khusyuk.

Tidak bersihnya itu karena apa? Kalau sekedar debu, maka itu tak najis walau nampak kotor. Ya cukup di sapu saja. Karena debu yang berterbangan oleh angin itu tak apa-apa. Tidak najis. Siapa sih yang bisa menghindar dari debu. Mungkin ini yang Anda maksud.

Kalau kotornya karena najis, seperti air kencing, tahi cicak, dll, harus dibersihkan sampai tidak ada bekasnya lagi. Bila kita terkena najis, wudhu kita tidak batal. Cukup kita membersihkan najis tsb.

Jadi, dalam hal ini, sesuatu yang kotor itu belum tentu najis, dan najis sudah pasti kotor.

Juga tak perlu ragu, apakah wudhu kita sah atau tidak, selama air yang kita pakai wudhu jelas kesuciannya.
Demikian, semoga cukup jelas.Arif Hidayat
pe
santrenvirtual.com

 


Berpuasa di Wilayah yang Malamnya Hanya 4 Jam

Bapak Ustadz yang terhormat, sebagai orang awam, saya pernah mengalami rasa bingung yang amat sangat. Ketika itu saya sedang melakukan perjalanan ke Nordcap, Norwegia bagian utara. Pada waktu itu musim panas, yang mana lebih panjang siang daripada malam (malam 4 jam saja), bahkan tidak ada malam sama sekali.

Dan sekarang saya berada di daratan Amerika bagian utara, selama saya di sini saya mengalami bulan Ramadlan jatuh pada musim dingin, yang malamnya lebih panjang daripada siang. Jadwal Shalat dan puasa dari Islamic Center menunjukkan bahwa waktu-waktu tersebut berdasarkan perjalanan matahari, padahal lebih ke utara sedikit dari tempat saya tinggal, waktu siang hanya ada sekitar 4-6 jam. Entah dasar waktu apa lagi yang akan dipakai pada waktu puasa jatuh pada musim panas yang hanya mengalami malam 4 jam saja.

Pertanyaan saya adalah, apakah kita harus tetap berpatok kepada peredaran matahari? Kapan kita bisa buka puasa, Shalat Maghrib, Shalat Isya’, Shalat Tarawih, Sahur dan Shalat Shubuh dalam waktu hanya 4 jam?

Muhammad Hasyim Abdi

Jawab:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Para ulama sejak dahulu memang berbeda pendapat tentang masalah puasa di wilayah yang siangnya lebih panjang dari malamnya atau sebaliknya. Mereka telah membuat banyak pernyataan dalam kaitan perbedaan musim dan pergantiannya dikaitkan dengan datangnya bulan Ramadhan.

Majelis Majma’ Al-Fiqh Al-Islami pada jalsah ketiga 10 Rabiul Akhir 1402 H/4 Februari 1982 M. telah menerbitkan ketetapan tentang masalah ini. Selain itu juga ada ketetapan dari Hai’ah Kibarul Ulama di Mekkah al-Mukarramah Saudi Arabia nomor 61 pada tanggal 12 Rabiul Akhir 1398 H.

Kedua majelis ini membagi masalah ini menjadi tiga kasus.

Pertama, Wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari. Dalam kondisi ini, masalah jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah yang terdekat dengannya di mana masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.

Kedua, wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dengan mega merah saat shubuh. Dalam kondisi ini, maka yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat ‘Isya’nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib. Begitu juga waktu untuk imsak puasa (mulai start puasa), disesuaikan dengan wilayah yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib dan masih bisa membedakan antara dua mega itu.

Ketiga, wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya. Dalam kondisi ini, maka waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pada saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.”

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. (QS Al-Baqarah: 187).

Sedangkan bila berdasarkan pengalaman berpuasa selama lebih dari 19 jam itu menimbulkan madharat, kelemahan dan membawa kepada penyakit di mana hal itu dikuatkan juga dengan keterangan dokter yang amanah, maka dibolehkan untuk tidak puasa. Namun dengan kewajiban menggantinya di hari lain. Dalam hal ini berlaku hukum orang yang tidak mampu atau orang yang sakit, di mana Allah memberikan rukhshah atau keringan kepada mereka.
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka gantilah sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah: 185).
Namun ada juga pendapat yang tidak setuju dengan apa yang telah ditetapkan oleh dua lembaga fiqih dunia itu. Diantaranya apa yang dikemukakan oleh Syeikh Dr. Mushthafa Az-Zarqo rahimahullah.
Alasannya, apabila perbedaan siang dan malam itu sangat mencolok di mana malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, di mana siang hanya terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan? Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit? Karena itu pendapat yang lain mengatakan bahwa di wilayah yang mengalami pergantian siang malan yang ekstrim seperti ini, maka pendapat lain mengatakan:

a. Mengikuti Waktu Hijaz Jadwal puasa dan shalatnya mengikuti jadwal yang ada di hijaz (Mekkah, Madinah dan sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap tempat terbit dan muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yang paling lama di wilayah itu untuk dijadikan patokan mereka yang ada di kutub utara dan selatan.

b. Mengikuti Waktu Negara Islam terdekat. Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa dan shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yang terdekat. Di mana di negeri ini bertahta Sultan/Khalifah muslim.
Namun kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Karena keduanya adalah hasil ijtihad para ulama.
Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.Ahmad Sarwat, Lc.
eramuslim.com

 

Bersiwak Saat Puasa

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pak ustadz, sebenarnya apa arti siwak itu sendiri? Seperti yang telah diketahui pada umumnya, di saat puasa, lambung mengeluarkan enzim yang menghasilkan bau yang tidak sedap pada mulut. Lalu bagaimana hukumnya menyikat gigi di saat puasa pada siang atau sore hari? Hal ini ditujukan pula untuk menjaga hubungan, terutama ketika di kantor, yang diperlukan interaksi antar klien atau teman kerja. Terimakasih.
Wassalamuu ‘alaikum, Wr. Wb.
Dita

Jawab:
Bersiwak itu adalah membersihkan gigi, baik dengan menggunakan sikat berikut pasta gigi maupun menggunakan benda lainnya. Termasuk kayu ara’ yang sering digunakan oleh bangsa Arab dan konon dahulu Rasulullah SAW menggunakannya juga. Lepas dari masalah masyru’iyah pengunaan kayu ara’ itu, namun membersihkan gigi adalah sebuah amaliyah yang teramat dianjurkan beliau SAW.
Rasulullah SAW bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan membuat ridha Allah” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Al Hakim dan Al-Baihaqi)
Dalam hadits lainnya beliau pun bersabda, “Kalau saja tidak memberatkan umatku akan aku suruh menggunakan siwak setiap akan shalat” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu bersiwak, sebaik-baiknya sesuatu adalah siwak. Menghilangkan lubang, memudahkan keluarnya dahak, menajamkan pandangan, menguatkan gusi, menghilangkan bau, memperbaiki pencernaan, meningkatkan derajatnya di surga, menyenangkan malaikat, membuat ridha Allah dan membuat benci syetan.” (HR Abdul Jabbar Al Khaulani berkata As-Suyuti: Hadits Shahih)

Bersiwak atau membersihkan gigi tidak membatalkan puasa. Namun menurut Imam Asy-Syafi’i, bersiwak hukumnya makruh bila telah melewati waktu zhuhur hingga sore hari. Alasan yang dikemukakan beliau adalah hadits Nabi yang menyebutkan: “Bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah dari aroma kesturi.” Sedangkan bersiwak atau menggosok gigi akan menghilangkan bau mulut. Namun bila bau mulut mengganggu seperti habis makan makanan berbau, maka sebaiknya bersiwak.
Wallahu a’lam Bis Shawab
eramuslim.com

 

 

Hukum Bersentuhan dengan Lawan Jenis Saat Berpuasa

Assalamu’alaikum ustadz,

Mau tanya nih kalo pas puasa misalnya sedang di dalam bis trus bisnya penuh jadi sesak, gimana bila perempuan bersentuhan dengan laki-laki dan nggak bisa menghindarinya? Apakah puasanya batal? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum
eka

Jawab:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshalatu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Secara hukum fiqih, selama seseorang tidak makan, minum atau melakukan hubungan suami istri secara sengaja, puasanya tidak batal.

Namun secara nilai, bila seseorang melakukan perbuatan yang haram, seperti memandang aurat lawan jenis secara sengaja dan penuh kesadaran, atau menyentuhnya atau melakukan hal-hal yang sejenisnya, tentu nilai ibadah puasanya menjadi berkurang, bahkan bisa hilang sama sekali. Meskipun secara hukum fiqih, puasanya tidak batal dan tidak ada kewajiban untuk meng-qadha’-nya di hari lain.

Sebab puasa itu bukan saja berdimensi hukum fiqih semata, melainkan juga berdimensi ruhiyah. Kalau yang hukumnya halal saja -seperti makan dan minum- harus ditinggalkan ketika berpuasa, apalagi perbuatan yang hukumnya memang haram sejak semula. Tentu lebih haram lagi bila dikerjakan saat berpuasa. Kejadian ini mengingatkan kita kepada salah satu hadits Rasulullah SAW.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Berapa banyak orang yang puasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar…”(HR. Ahmad Dalam Musnad Imam Ahmad 9308)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Berapa banyak orang yang puasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus…”(HR. Ad-Darimi Dalam Sunan Ad-Darimi 2604)

Hal itu terjadi salah satunya karena ketika berpuasa, seseorang melakukan kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda,

”Puasa itu adalah benteng, sehingga bila seorang kamu berpuasa, janganlah melakukan rafats (cumbu yang diharamkan) dan berlaku jahil. …” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

Padahal keistimewaan ibadah puasa dibandingkan dengan jenis ibadah lainnya terletak pada bentuk dan sifat pahalanya. Dimana Allah SWT sendiri yang akan menentukan bagaimana pahala itu akan diberikan. Dan tentunya, masalah nilai ibadah menjadi faktor utama, selain masalah sah dan tidak sah secara hukum fiqih.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT telah berfirman,” Seluruh amal anak Adam itu diberi ganjaran kecuali puasa. Karena puasa itu untukKu dan Aku lah yang memberi ganjarannya…”. (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasai)

Kami yakin bahwa apa yang anda alami jauh dari niat untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Namun zhuruf (kondisi) sosial di negeri kita memang seringkali kurang kondusif untuk menjalankan ajaran agama secara sempurna.

Sekedar sebuah masukan saja, kalau masih memungkinkan bagi Anda untuk mengurangi frekuensi berjejalan di dalam angkutan umum, sebaiknya anda kurangi. Ada baiknya sebagai wanita, anda lebih banyak berkonsentrasi untuk beribadah di rumah, terutama di bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Ahmad Sarwat, Lc
eramuslim

 

 

Kalau Suami-Istri Bercumbu di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustadz yang terhormat mohon bantuannya atas pertanyaan berikut:
1. Kalau suami-istri bercumbu di bulan puasa dan karena “TIDAK TAHAN” mengeluarkan sperma, apakah puasanya batal? Bagimana dengan si istri yang mencapai orgasme, Apakah batal pula puasanya?

2. Apa benar kalau orang yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan maka dia harus menggantinya di bulan lain tapi harus 60 hari terus menerus?

3. Apakah ini berlaku untuk orang yang batal puasanya pada bulan Ramadhan?
Wassalamu’alaikum wr. wb.Anto

Jawab:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.
1. Puasa itu harus menahan nafsu syahwat, sehingga tidak boleh melakukan aktifitas percumbuan antara suami istri yang akan mengakibatkan keluarnya sperma. Dan bila sampai terjadi keluarnya sperma, maka rusaklah puasa itu dan batal. Selain berdosa karena merusak puasa, juga ada kewajiban untuk mengqadha’nya di hari lain.

2. Memang ada sedikit kalangan yang berpendapat demikian, namun umumnya para ulama tidak setuju akan hal itu. Sebab denda kaffarat untuk berpuasa 2 bulan berturut-turut itu hanya berlaku bagi yang melanggar puasa karena melakukan hubungan seksual dengan pasangan syah-nya di siang hari bulan Ramadhan. Di luar kasus itu, cukup dengan mengganti puasa yang dirusaknya pada hari lain. Kalau pun ada denda, bentuknya bukan puasa 2 bulan berturut-turut, melainkan membayar fidyah.

3. Batal puasa pada siang hari bulan Ramadhan ada dua macam.

Pertama, batal bukan karena disengaja. Misalnya wanita yang mendapat haidh, nifas, atau orang yang melakukan perjalanan, mengalami sakit dan sebagainya. Mereka ini termasuk yang harus atau boleh tidak berpuasa karena uzur syar’i. Kewajiban mereka adalah mengganti puasa di hari lain setelah Ramadhan.

Kedua, sengaja melakukan hal-hal yang membatalkan tanpa uzur syar’i. Misalnya sengaja makan, minum, melakukan hubungan seksual, sengaja muntah dan seterusnya. Mereka wajib mengganti puasa di hari lain dan sebagian ulama mewajibkan mereka membayar kaffarah berupa memberi makan fakir miskin, bukan puasa 2 bulan berturut-turut.
Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.Ahmad Sarwat, Lc.
eramuslim.com

  • ahmad nur hasim

    bagaimana hukumnya anak sudah bisa puasa penuh tapi masih mau menjalankan puasa bedug

    • Arun Uppada

      Thank you

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration