Eka S –

Ada sebagian orang berpendapat bahawa puasa dimulai ketika waktu imsak. Ada yang berpendapat ketika subuh. Menurut para aktivis harakah puasa dimulai ketika terbit.

Saya membaca di terjemah Shahih Bukhari maksud daripada benang hitam dan benang putih adalah hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang. Menurut analisis pak Ustadz manakah pendapat yang paling shahih?

Jawaban:

Sebenarnya yang paling tepat sesuai dengan keterangan dari sunnah Rasulullah SAW adalah sejak masuknya waktu shubuh. Saat itulah sesungguhnya puasa dimulai dan bukan waktu imsak atau terbitnya fajar. Dalam AL-Quran disebutkan:

“Makan dan minumlah kamu semua, hingga terang bagi kamu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”. (Qs. Al-Baqarah: 187).

Fajar yang dimaksud bukan terbitnya matahari tapi fajar masuknya waktu subuh.

Adapun imsak sekedar tanda untuk bersiap-siap mulai menahan dari makan dan minum. Imsak bukanlah titik start untuk mulai berpuasa. Biasanya imsak ini dimulai kira-kira 10 menit sebelum waktu subuh menjelang. Gunanya agar kita punya persiapan ketika waktu subuh masuk dan tidak dalam keadaan makan atau minum saat masuk waktu untuk berpuasa.

Sedangkan terbitnya matahari adalah menandakan bahwa waktu subuh telah selasai.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

sumber : Syariah Online

 

Abm – Kaltim
Saya ingin menanyakan hukum pada saat bulan puasa ramadhan melakukan masturbasi/onani sehingga keluar seperma ia sedang puasa, dan itu dilakukan pada waktu yang lampau kira-kira 8th silam, karena masih merasa berdosa, walaupun ia telah melakukan puasa di bulan lain. Pertannyaan.

1. Apakah secara syari ia terkena hukum seperti orang melakukan zina disiang hari?

2. Jika terkena fidyah atau puasa berturut-turut 2 bulan atau cukup membayar puasa di bulan lain sebanyak yang batal.

3. Fidyah berapa yang harus dibayar?

4. Bagaimana agar kita mendapat ampun dr Allah akibat kelalian pd masa lampau?

Jawaban:
1. Onani diharamkan hukumnya oleh sebagian ulama dan sebagian yang lain membolekannya dengan catatan dan persyaratan. Dan beronani sehingga mengakibatkan keluarnya sperma, akan membatalkan puasa seseorang. Karena itu wajib baginya untuk mengganti puasa dihari lain.

Dan onani meski diharamkan oleh sebagian ulama, namun bukanlah zina yang diharamkan secara mutlak oleh Al-Quran dan sunnah.

2. Beronani di siang hari bulan puasa membatalkan puasa. Cukup mengganti dengan berpuasa di hari lainnya. Tapi tidak sama dengan orang yang berhubungan seksual dengan istrinya di siang hari bulan puasa. Buat mereka, tidak cukup sekedar mengganti puasa di hari lain, tetapi wajib membayar kaffarat, yaitu membebaskan budak, atau puasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.

3. Sebagian ulama mengatakan bahwa bila menyengaja berbuka puasa di siang hari di bulan ramadhan selain wajib mengganti maka wajib pula membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin.

4. Minta ampun kepada Allah adalah dengan tobat kepadanya dan jalannya paling tidak ada tiga tingkatan:
– berhenti dari apa yang telah dikerjakan
– menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi
– meminta ampun kepada Allah.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
sumber : Syariah Online


Saleh –
Pak Ustadz, Saya dan istri berniat untuk menutup seluruh hutang-hutang puasa yang belum terbayarkan. Apakah ada formula untuk menentukan jumlah hari puasa yang harus dijalankan ataukan ada cara lain spt membayar fidiyah, karena kami sama sekali tidak mencatat total jumlah hari puasa kami yang harus dibayar.

Seandainya kemudian kami akan membayarkan puasa almarhum orang tua kami, bagaimana pula formulanya, apakah cukup dengan membayar fidiyah saja.

Mohon penjelasannya.

Jawaban:
Hutang puasa harus dibayar dengan qodho bukan fidyah, kecuali jika orang itu sudah tidak mampu sama sekali seperti oarng tua yang tidak mampu puasa dan orang sakit yang jauh harapannya untuk sembuh. Adapun orang yang hutang puasa dan dia mampu, maka harus mengqodho sebanyak dia meninggalkan puasa.

Jika oarng tua tersebut sakit dan kemudian sembuh tetapi tidak sempat puasa maka ahlinya atau kerabatnya membayar dengan puasa. Sebagaimana hadits Nabi saw:

“Siapa yang meninggal, dan punya hutang puasa maka walinya membayar puasa” (Muttafaqun ‘alaihi).

Tetapi jika dia sakit sampai meninggal maka keluarganya harus membayar fidyah dengan memberi makan kepada faqir miskin sebanyak puasa yang ditinggalkannya, sebagaimana disebutkan oleh hadits riwayat Ibnu Umar:

“Siapa yang meninggal dan punya hutang puasa maka hendaknya memberi makan setiap sekali puasa seorang miskin” (HR At-Tirmidzi, hadits mauquf.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
sumber : Syariah Online

 

Pak Ustadz yang dirahmati Allah. Saya ingin menanyakan mengenai Hutang dari Puasa wajib yang harus dibayar, ketika seseorang tidak tahu banyaknya hutang puasa dirinya sendiri, dikarenakan sesuatu hal seperti: melahirkan, masa lalu yang kelam, dan lain-lain. Mohon jawaban dari Pak Ustadz.

Jazakumullahu khairan katsira.

Jawaban:
Seharusnya setiap muslim harus tahu bahwa dirinya mempunyai kewajiban berpuasa. Ketika meninggalkan puasa karean suatu uzur, harus menghitung berapa hari yang ditinggalkan agar dapat menggantinya di kemudian hari.

Sedangkan bila sama sekali tidak tahu, maka sebaiknya diperkirakan dan dihitung-hitung, selain itu juga minta konfirmasi dari teman atau saudara yang juga mengetahui berapa lama kira-kira dia meninggalkan puasa. Tentunya ini harus dilakukan dengan niat ikhklas, bukan dengan mengecil-ngecilkan bilangan harinya. Karena buat apa mengqadha‘  tapi tidak tuntas.

Sedangkan bila seseorang pernah punya masalalu yang kelam dan tidak terhitung lagi berapa hari dia meninggalkan puasa, maka bertaubatlah dengan taubat yang nashuha. Selain itu usahakan selalu mengerjakan puasa sunnah, semoga apa yang pernah luput bisa digantikan dengan pahala puasa itu.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
sumber : Syariah Online

 

Apa itu Lailatul Qadar?

Pak Mus, di bulan puasa, saya sering mendengar orang berbicara mengenai Lailatul Qadar. Saya pernah mendengar kawan mengatakan: “Wah, tampaknya malam ini malam Lailatul Qadar,” dan yang lain mengatakan: “Saya baru saja mendapat Lailatul Qadar” dan seterusnya.
Apa sih sebenarnya Lailatul Qadar itu?

Purnomo – Ungaran

Jawab:
Lailat atau Lailah artinya malam dan al-qadar artinya mulia. Jadi, Lailat al-Qadar (biasa kita lafalkan: Lailatul Qadar secara harfiah berarti malam mulia atau malam kemuliaan).

Dalam surah ke-97 Al-Quran, surah Al-Qadr, disebutkan:
“Malam Qadr lebih baik dari seribu bulan”. (QS 97. Al-Qadr: 3)

Dan hadis Nabi pun banyak mengenai malam istimewa ini. Maka tidak mengherankan, bila sejak dulu, orang banyak membicarakannya, terutama jika puasa Ramadhan sudah mencapai separuh bulan.

Menurut Al-Quran, di surah 97 tadi, malam al-Qadr adalah malam di mana Allah menurunkan Al-Quran. Tentu saja malam di mana Al-Quran turun, adalah malam yang sangat istimewa, terutama bagi hamba Allah. Bayangkan. Allah Yang Maha Besar Yang menciptakan segala, berkenan berfirman kepada kita, makhluk yang sangat kecil dan lemah ini. Mengistimewakan kita dari makhluk-makhluk-Nya yang lain dengan memberikan tuntutan dan pedoman hidup bagi kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Maka untuk memperingati malam yang luar biasa itu, sudah sepatutnyalah kita mengistimewakannya dengan mengisinya dengan njungkung (tekun beribadah) yang lebih dalam. Rasulullah Saw. sendiri, seperti dikatakan istrinya ‘Aisyah r.a., jika memasuki hari-hari sepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan, lebih bersungguh-sungguh dalam menghidup-hidup malam dengan ibadah. Beliau bangunkan seluruh keluarganya agar melakukan hal yang sama, meningkatkan taqarrub, pendekatan, kepada Allah.

“Apabila telah masuk sepuluh yang akhir di bulan Ramadhan, Nabi Saw. lebih giat menghidup-hidupkan malamnya dengan beribadah; beliau bangunkan keluarganya, beliau lebih tekun, dan beliau kencangkan ikat pakaiannya.” (HR. Muslim)

Kalau kemudian banyak di antara kita yang berbicara tentang malam itu dengan mengait-ngaitkan dengan adanya semacam barakah yang akan diperoleh oleh mereka yang ngepasi malam tersebut, itu adalah wajar. Kita memang lebih senang kan berbicara soal kepentingan kita katimbang kewajiban kita?!

Yang jelas memang ada hadis Nabi Saw. yang berbunyi:
“Barangsiapa njungkung beribadah pada malam Qadr dengan sepenuh iman dan semata-mata mencari keridlaan Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang sudah-sudah.” (HR. Muslim)

Adapun kapan pasnya malam Qadr tersebut, ulama berbeda pendapat. Tapi saya bisa memastikan, jika Anda njungkung ibadah setiap malam, selama bulan Ramadhan, Anda pasti bisa ngepasi malam istimewa tersebut.

Wallaahu A’lam.
KH. A. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com

 

Batalnya puasa

Menurut Madzhab Syafi’i keluar madzi karena sentuhan, ciuman atau cumbuan, membatalkan puasa atau tidak?

Ada kasus begini : dengan asumsi keluar madzi tidak membatalkan puasa. Ada orang yang bercumbu, lalu keluar madzi, bukan mani, tapi dia tidak tahu kalau keluar madzi itu tidak membatalkan puasa. Daripada berada dalam keragu-raguan, orang itu membatalkan puasanya dengan onani, bagaimana hukumnya?

Harap dijawab secepatnya, terima kasih.

Jawab:

Menurut Syafi’iyah, keluarnya madzi sebab hal-hal yang Anda sebutkan itu tidak membatalkan puasa. Demikian juga menurut Hanafiyah. Lain lagi menurut Malikiyah dan Hanbaliyah, hal seperti itu membatalkan puasa. Makanya, sebaiknya hal ini perlu kita hindari.

Ciuman itu sendiri makruh hukumnya saat berpuasa, apalagi bila teriringi dengan syahwat sampai keluar madzi. Dua madzhab terakhir, Malikiyah dan Hanbaliyah, menurut saya lebih tepat karena pada dasarnya puasa itu ditujukan untuk menahan nafsu, nafsu apa saja.

Hukumnya ya jelas batal puasanya, karena onani yg dilakukannya.
Arif Hidayat
pesantrenvirtual.com

 

 

Berpikir Porno Waktu Puasa

Saya mohon dengan hormat untuk bisa memperoleh penjelasan sebagai berikut:
Ketika sedang puasa, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak marah, bahkan kadang-kadang saya suka berpikir porno. Apakah sah puasa saya itu?

Matur Nuwun.

Ny. Wida Susetyo

Jawab:
Seperti juga khusyuk dalam salat, sebenarnya puasa yang sempurna ya tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Tapi juga menahan diri dari nafsu, syahwat dan amarah. Kalau soal hukumnya menurut fikih, asal sudah memenuhi syarat-rukunnya puasa, ya sah.

Tambahan dari Pesantren Virtual:
Dalam puasa ada beberapa orang yang merugi dalam melaksanakan ibadah puasanya, yaitu orang yang hanya menjaga dirinya dari lapar dan haus, sementara hatinya selalu diliputi oleh iri, dengki, nafsu, syahwat dan amarah. Oleh karena itu bila kita semua ingin memperoleh keutamaan dan pahala puasa yang sempurna sebagaimana yang telah Allah janjikan, hendaknya kita bisa menjaga hati kita juga.

Wallaahu A’lam.
KH. A. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com

 

 

Diterimakah Puasanya Orang yang Meninggalkan Salat?

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bagaimana hukumnya orang puasa pada bulan Ramadhan tetapi dia tidak mengerjakan shalat?

Seperti kita ketahui bahwa rukun islam ada lima : syahadat, salat, zakat, puasa, haji. Saya pernah mendengar pendapat bahwa orang yang salat adalah orang yang telah membaca syahadat (orang islam). Kemudian orang yang membayar zakat adalah orang yang telah mengerjakan salat. Demikian seterusnya dengan tidak boleh dilompati jika mampu. Dari sini saya berkesimpulan bahwa orang berpuasa tanpa mengerjakan salat maka puasanya tidak diterima oleh Allah SWT. Benarkah kesimpulan saya? mohon jawaban.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Kakung W.

Jawab:

Semua orang Islam (yang telah mengikrarkan syahadat) tentu dituntut untuk melaksanakan semua rukun yang lain: salat, zakat, puasa, dan haji. Menyangkut permasalahan orang yang meninggalkan salah satu rukun itu dengan sengaja, pendapat ulama berbeda-beda. Ada yang mengatakan “barang siapa meninggalkan salah satu dari rukun itu maka ia kafir.” Ada lagi yang bilang “bagi yang meninggalkan salat dan tidak mau membayar zakat saja yang kafir.” Yang lain lagi bilang “hanya orang yang sengaja meninggalkan salat itulah yang kafir.”

Semua pendapat di atas, tentu tidak tersisa lagi dalam anggapannya bahwa orang yang meninggalkan salat dengan sengaja akan diterima puasanya. Karena orang kafir itu semua amalnya ditolak. Maka puasanya pun tidak diterima.

Ada pendapat lain lagi yang mengatakan sekedar fasik, selama dia tidak mengingkari bahwa salat itu wajib adanya. Hanya saja karena kemalasannya, belum terbiasa, atau belum bisa, sehingga ia tidak melakukan salat. Orang seperti ini mempunyai secercah keimanan dalam kalbunya, namun karena masih sangat lemah, perlu terus disirami, dirawat, dan dirabuk. Ia berdosa besar, karena meninggalkan sesuatu yang diyakininya wajib. Dan sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal seseorang, amal apa saja, selama itu dilakukannya dengan ikhlas.
pesantrenvirtual.com

 

Hitungan Fidyah

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya hukumnya fidyah dan bagaimana penghitungannya. Apakah 1 kali makan atau 1 hari, apa makan plus lauk pauknya dan kalau diuangkan berapa?

Wasalamualaikum Wr.Wb.

Jawab:
Mayoritas Ulama bersepakat bahwa hukum fidyah adalah wajib, berdasar ayat “Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (puasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Baqarah:184) Orang yang meninggalkan puasa adakalanya yang harus membayar fidyah dan mengqadha’   puasa, adakalanya yang diharuskan membayar fidyah saja.

Yang masuk kategori pertama (membayar fidyah dan qadha’ ) :

1.  Perempuan yang hamil dan menyusui apabila menghawatirkan kesehatan anaknya. (Jika ia menghawatirkan kesehatan dirinya bukan anaknya, sebaliknya, ia harus mengqadha’  saja tanpa harus membayar fidyah.)

  1. Orang yang terlambat mengqadha’  puasa sampai datang bulan Ramadhan berikutnya dengan tanpa udzur (haid, nifas, sakit, gila, bepergian yang berkepanjangan, dll.).

Dan yang masuk dalam kategori kedua (membayar fidyah saja, tanpa qadha’ ) :

  1. Seseorang yang kondisi fisiknya memang tidak memungkinkan lagi berpuasa, seperti kakek-nenek yang sudah tua renta.
  2. Orang sakit yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.

Adapun mengenai kadar atau takaran fidyah itu adalah satu mud (makanan pokok setempat) untuk satu hari. Jadi jika seseorang meninggalkan 5 hari, ia mempunyai tanggungan 5 mud. Satu mud sama dengan 675 gram, atau yang mencukupi dua kali makan satu orang (sahur dan buka). Boleh juga dibayarkan berupa uang, dihargai sesuai harga pasar setempat. Karena wajarnya makan itu lengkap dengan lauk-pauk, ya harus sekalian dengan lauk-pauk. Sewajarnya saja.
Mutamakkin Billa
pesantrenvirtual.com

 

 

Mandi Junub Di Pagi Hari

Pak Mus, bersenggama di malam puasa itu boleh kan? Lalu bagaimana kalau mandi janabahnya di pagi hari, apakah membatalkan puasanya atau tidak? Matur Nuwun.
DN – Semarang

Jawab:
Memang boleh bersenggama di malam hari puasa. Sebagaimana firman Allah:
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa berampur dengan istri-istri kamu” (QS 2. Al-Baqarah: 187)

Yang dilarang keras itu di siang hari. Adapun orang junub berpuasa –junubnya karena senggama atau lain– puasanya sah menurut kesepakatan ulama. (Baca Ensklipode Ijma’ hal 522-523).

Seperti diketahui, mandi janabah itu kan mandi untuk menghilangkan hadas besar (kalau untuk menghilangkan hadas kecil: wudlu). Orang yang berhadas tidak diperkenankan mengerjakan salat. Kalau berhadas kecil harus berwudlu dahulu, jika berhadas besar, ya mandi janabah dahulu. Anda boleh saja mandi di pagi hari, tapi ingat salat Subuhnya. Jadi sepagi-paginya. Mandi janabahnya ya sebelum Subuhlah. Ya toh?!

Wallaahu A’lam
KH. A. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com

 

 

Niat Puasa, Mandi Keramas dan Junub Saat Puasa

Bagaimana hukumnya berpuasa Ramadhan sambil berniat untuk puasa wajib lainnya (qadla’, kafarah, nadzar)?

Jumhur ulama (mayoritas Ulama’ ) melarang men-double-kan niat puasa, karena puasa pada dasarnya merupakan ibadah yang berkaitan dengan waktu, seperti halnya salat. Jadi harus diniatkan jenis puasanya, ramadhankah, sya`ban, atau sunnah,dll.

Lupa niat puasa ramadhan sebelum fajar, bagaimana hukumnya?

Bagi Hanafiyah boleh, karena niat bukanlah syarat menurutnya. Namun Syafi`iyah menganggap niat sebagai syarat dalam puasa, jadi diharuskan adanya niat sebelum fajar, atau di malam harinya. Dan tidak wajib bagi seseorang yang berniat puasa pada malam harinya kemudian mengulangi niatnya kembali jika ia bangun dari tidurnya.

Apa hukumnya mandi keramas siang hari pada saat berpuasa?

Boleh, meskipun air masuk ke telinga karena masuknya air ke telinga merupakan sesuatu yang tidak bisa dihalangi. Ini menurut Hanafiyah. Sedangkan Hanabilah (Madzhab Hanbali) lebih mustahab (disukai) jika mandi dilakukan sebelum fajar, terutama bagi orang yang junub dan perempuan yang telah habis masa haidh atau nifasnya. Mandi merupakan suatu kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia, yang jika dilakukan di malam hari akan menyebabkan sakit. Di samping itu Islam menganjurkan kebersihan. Islam juga menganjurkan untuk menjaga nikmat kesehatan yang telah diberikan Allah. Maka tidak mengapa jika mandi dilakukan pada pagi/siang/sore hari pada saat berpuasa, dengan tidak berlebihan, sehingga air masuk ke lubang tenggorokan, hidung dan telinga, yang mana hal ini mengakibatkan batalnya puasa.

Orang junub yang belum mandi sebelum fajar, sahkah puasanya?

Puasanya sah, meski ia mandi pada pagi harinya. Karena Rasulullah pernah bangun dalan keadaan junub, kemudian beliau mandi, dan berpuasa Ramadhan. Demikian juga dengan perempuan yang suci dari haidh malam harinya dan baru mandi pada pagi harinya, ia sudah harus berpuasa pada hari itu. Tapi lebih diutamakan mandi sebelum fajar.

Perempuan haidh, tapi darah haidhnya tidak keluar lancar dan ia ragu apakah ia masih haidh atau sudah bersih pada waktu fajar, apakah ia harus puasa?

Ia boleh tidak puasa selama ia yakin bahwa ia masih dalam masa haidh, karena “keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan keraguan (al-yaqînu lâ yuzâlu bissyakki)”. Bisa juga dilihat dari kebiasaan masa haidhnya selama ini, jika biasanya 10 hari dan pada hari ke 8 ia sudah bersih dan ragu apakah ia harus bersuci, maka boleh ditunggu sampai hari berikutnya, karena bisa jadi pada hari ke 10 akan keluar lagi. Pada masa itu ia boleh tidak berpuasa. Namun jika tidak yakin, lebih baik ikhtiyath (berhati-hati), artinya kalau pada hari ketujuh sudah bersih, ia harus puasa, salat dll. Apabila besoknya keluar lagi, berarti ia masih haidh, dan tidak wajib berpuasa, salat, dll.
pesantrenvirtual.com

 

 

Puasa Tertelan Air

Pak Kiai, pada bulan Ramadhan ini, saya pernah berwudlu di siang hari; karena sudah terbiasa, maka saya pun berkumur-kumur seperti biasanya. Nah, waktu berkumur itu, tanpa saya sadari, terasa air yang tertelan.

Pertanyaan saya, batalkah puasa saya karena tertelan air tersebut?

Mohon jawaban dan terima kasih.

D. Nurhadi

Jawab:
Orang yang lupa makan atau minum pada waktu puasa, tidak direken (dihitung). Tidak dianggap batal puasanya, karenanya orang tersebut tidak wajib mengqadhai atau membayar puasa atau membayar fidyah.

Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Barangsiapa lupa pada saat puasa, lalu makan atau minum, hendaklah melanjutkan puasanya. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR. Muslim)

Itu artinya Allah memang berkehendak memberi makan atau minum orang yang lupa tadi.

Saya rasa kasus Anda, berwudlu tertelan air, sama dengan ini. Kan Anda tidak sengaja menelan air. Puasa Anda sah dan tidak batal. Apalagi ada hadis lain:

“Sesungguhnya Allah menggugurkan (artinya tidak menuntut tanggungjawab) dari umatku kekeliruan, kelupaan, dan sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.”

Wallaahu A’lam.
KH. A. Mustofa Bisri
sumber : pesantrenvirtual.com

 

Puasanya Pekerja Keras

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Saya mau bertanya kepada pengasuh mengenai masalah fidyah. Ayah saya mempunyai perkerjaan yang berat, saat ini hanya pekerjaan itu yang bisa dilakukannya, dan selama ini ayah saya membiayainya dari hasil pekerjaanya tsb. Ayah saya kerja di bengkel. Untuk berpuasa beliau tidak sanggup, yang ingin saya tanyakan:

Apakah ayah saya boleh membayar fidyah (karena untuk meng-qadha’  pun sama saja)?
Kalau boleh, apakah fidyah yang dibayarkan itu bisa nanti di sekaliguskan (sekalian bayar zakat)?
Bolehkah fidyah seseorang itu ditanggung oleh orang lain? (membayarkan fidyah orang lain, dalam hal ini fidyah ayah saya)

Itu saja, terimakasih….jazakumullah khairan katsirah atas jawabannya.

Wassalam

Peppy

Jawab:
Untuk menanggapi kasus seperti yang dialami bapak Anda tersebut, ada beberapa prinsip berikut, yang saya sadur dari fatwa nomor 768 yang dikeluarkan oleh Daar Iftaa’, lembaga fatwa resmi Mesir).

1. Para Fuqoha’ (ahli fikih) memperbolehkan meninggalkan puasa bagi para pekerja keras yang terpaksa harus bekerja di siang hari Ramadhan demi mencukupi kebutuhannya serta keluarganya. Namun ia harus (wajib) mengqadha’  puasa yang ditinggalkannya di lain hari, setelah terlepas dari kesibukan yang melelahkan demikian itu.

2. Apabila ia tidak menemukan hari luang hingga ia meninggal dunia, maka ia tidak terkena hukum wajib qodha’ dan juga tidak terkena hukum wajib memberi wasiat bayar fidyah.

3. Apabila ia yakin atau mempunyai prediksi yang sangat kuat, bahwa ia tidak akan punya kesempatan untuk mengqadha’  puasa di lain hari, maka ia dihukumi sebagaimana orang tua renta (boleh meninggalkan puasa dan harus mengganti setiap harinya 1/2 sha’ bahan makan atau nilai tukarnya [membayar fidyah].

Catatan: satu sho’ = 4 (empat) mud. 1 (satu) mud = 675 gram (pen). Lihat Glosari Zakat

Yang sudah baku dalam fikih Hanafi, sesungguhnya orang yang sehat dan berdomisili (tidak musafir) jika terpaksa harus bekerja di bulan Ramadhan dan ia mempunyai dugaan yang sangat kuat (melalui saran dokter atau melalui pengalamannya sendiri), bahwa puasa dapat menyebabkan kemudharatan bagi kesehatannya atau dapat mengganggu fitalitasnya sehingga ia tidak dapat melaksanakan pekerjaannya (yang merupakan tumpuan hidupnya) secara baik, maka dalam keadaan demikian diperbolehkan baginya untuk meninggalkan puasa (diambil dari Ibnu Abidin).

Dan melihat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh para ahli fikih, maka kewajiban para pekerja keras adalah mengganti (mengqadha’  ) puasa yang ditinggalnya di lain hari yang luang dari pekerjaan keras.

***

Tinggal sekarang keadaan bapak Anda itu disesuaikan dengan kondisi-kondisi di atas. Kalau memang benar-benar tak mampu berpuasa sepanjang tahun, karena pekerjaan itu harus dia lakukan sepanjang tahun, tidak bisa tidak, sebagai ganti puasanya adalah membayar fidyah. Boleh saja fidyah itu Anda bayarkan. Waktunya dibarengkan dengan membayar zakat juga boleh. Tapi jangan dicampur. Harus jelas, mana yang untuk fidyah, mana yang zakat.

Abdul Ghofur Maimoen
pesantrenvirtual.com

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration