Ikhwatifillah…

Kita sudah berbicara tentang banyak hal, berawal dari hal mengenai komitmen personil hingga menyusuri ranah lingkungan strategis pergerakan jamaah ini. Dari sekian banyak yang telah kita bicarakan dibelakang (bukan berarti dilupakan) mungkin diantara kita menganggap “terlalu teoritis ataupun terlalu asumtif”. Tidaklah salah beranggapan demikian, inilah hakikat jamaah. Ia dibangun diatas jutaan ide/pemikiran dari para lokomotifnya yang terus merenovasi ketegarannya dan kian memperindah performansinya, yang terus menyuplai darah segar kreativitas konsep siyasah ketika “sesak” demikian mengecil dan mengucilkan “wilayah ekspansi”.

Baiklah, jika mungkin penyampaian ini terlalu banyak berdalil. Sekarang saatnya pada bagian ini saya mengajak antum wa antunna,”mari kita berbicara tentang investasi kemenangan !”

Investasi atau modal tak hanya sampai pada pembahasan model atau konseptual tapi Ia mesti segera teraktualisasikan. Harus dideklamasikan dipanggung kemenangan. Inilah yang selama ini melekat dalam kultur dan jati diri jamaah ini, “kata menjadi bekerja, teori menjelma aplikasi, rencana dan gagasan berubah realita”

 

 

KEMENANGAN itu ada untuk KITA

 

Pada dasarnya kemenangan kita raih pada saat kita yang mengaku dirinya sebagia sosok seorang aktivis itu mampu untuk menjaga jiwa kita agar tetap bersih, dimana dalam jiwa yang bersih itulah keimanan mampu untuk tumbuh dengan kokoh, di dalam hati yang bersih akan memancarkan tekad kita yang kuat membaja dalam melakukan kebaikan, membela kebenaran, serta menegakkan keadilan. Di dalam jiwa yang bersih pula akan muncul kecintaan kita untuk memperjuangkan “ Risalah Illahi “ serta mampu menolak diri dalam melakukan kebenaran. Teringat sebuah pesan dari al akh dimana ketika kita terindikasi lepas dari pengawasan Alloh SWT adalah disaat kita sudah tidak mampu lagi merasakan salah ketika kita melakukan kesalahan, dalam hal ini konteks nya kesalahan kecil maupun kesalahan besar.

Ada sebuah pesan menarik yang disampaikan oleh  Khalifah Umar bin Khatthab tatkala memberangkatkan pasukan perang yang di pimpin Sa’ad bin Abi Waqash yang hendak melawan Persia, yang penduduknya menyembah api. Saat itu, 30.000 mujahidin siap berangkat ke Al-qadisiyah, berbatasan dengan negri Kisra. Sebelum mereka berangkat berperang, Khalifah Umar r.a. memberikan wasiat sebagai berikut: “Bismillah wa ‘ala barakatillah. Wahai Sa’ad bin Abi Waqash, janganlah engkau tertipu dan sombong lantaran engkau adalah paman Rasulullah SAW dan salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, semua orang di mata Allah, baik bangsawan maupun bukan, adalah sama. Di sisi Allah, hamba yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya”

“Ya sa’ad.aku wasiatkan kepadamu dan kepada pasukanmu, agar senantiasa bertakwa kepada Allah. kalau kita melanggar perintah-Nya, berarti kita sama dengan musuh-musuh kita dalam bermaksiat. Padahal musuh kita jauh lebih besar, baik jumlah pasukan maupun perlengkapan perangnya.Dengan demikian, bila kita telah melakukan maksiat, maka dengan mudah mereka akan menghancurkan kita!”

 

“ya Sa’ad, aku tidak takut pasukan kita akan dikalahkan oleh musuh, tetapi yang aku takutkan adalah bila pasukan kita melakukan dosa. Selamat jalan, ya Sa’ad, semoga Allah selalu memberkati dan melindungimu!”

 

Demikianlah pesan Khalifah Umar r.a kepada pasukan Islam yang nantinya mencapai kemenangan dalam peperangan di Qadisiyah.Khalifah Umar justru lebih mengkhawatirkan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh pasukan Islam daripada realitas musuh itu sendiri.

 

Maksiat memang berpotensi menyebabkan kegagalan dan kehancuran gerakan dakwah. Citra diri da’i dan dakwah akan rusak, umat kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya kebaikan bisa terabaikan. Dan maksiat juga bisa menyebabkan dakwah ini tidak berkah.

Kemudian kemenangan yang kedua adalah ketika kita mempunyai soliditas struktur gerakan dakwah yang bagus.Sebuah kejahatan yang terstruktur mampu mengalahkan kebaikan yang tidak tersruktur.

 

Maka untuk itu, ada beberapa icon pergerakan yang kiranya diyakini dapat mengepalkan takbir di puncak kemenangan kita. Sebut saja sebagai syarat pokok kemenangan dakwah.

 

  • Spiritual

Barangkali kita sedikit tercenung. Betapa perih hati ini jika lensa mata kita menyaksikan demikian banyak penindasan, pendistorsian, pengekangan, bahkan pembantaian yang kian dibenturkan kapada umat islam, saudara-saudara kita tercinta dibelahan bumi lainnya, Ironisnya mereka dikekang ditanah bermayoritas umat Islam. Mengapa ini bisa terjadi ?

Padahal kita tahu bukan, sejarah Islam masih menyimpan ribuan ensiklopedia yang membuktikan kedahsyatannya. Ingin sekali memohon pada waktu agar quantumnya menganugerahkan kembali supremasi keemasan itu. Semoga. Momentum pernah bersaksi bahwa 2/3 dunia ini pernah digenggam orang-orang shaleh yang kuat. Momentum pernah bersaksi kalau dahulu pustaka dunia digumuli pesatnya karya-karya monumental para ulama salaf. Momentum juga bersaksi bahwa dunia ini pernah dikuasai penguasa yang tawadhu dan berani. Momentum juga mengabarkan bahwa inspirator utama dunia adalah Rasulullah. Dan momentum pun berkata bahwa kita adalah umat terbesar.

Rentetan sejarah ingin memperlihatkan kepada kita betapa “tangan yang senantiasa berwudhu ini” membentangkan sejarah Islam diatas simpul-simpul kemenangan yang terus merenda masa.

Ketika kemenangan telah berpihak pada kaum muslimin saat peristiwa Perang Badar cukup memberikan kita sebuah pelajaran akan eksistensi kualitas spiritual para sahabat saat itu. Betapa tidak, ketika itu kuantitas pasukan muslim sangatlah minim namun dikarenakan niat serta tekad membara atas nama Allah demi li ila kalimatillah.

Sebaliknya ibrah yang dapat kita petik dari peristiwa Perang Uhud yang ketika itu kuantitas pasukan kaum muslimin demikian besar jumlahnya tetapi akhirnya dapat dipukul mundur sebelumnya awalnya kemenangan berada digenggaman mereka. Lagi-lagi disebabkan hanya sedikit saja kekhilafan sebagian pasukan saat itu yang terdorong nafsunya untuk segera mendapatkan sebanyak-banyaknya ghanimah hingga lalai dari pertahanan. Padahal ditengah itu Rasulullah berkoar-koar agar tetar berada di posisi strategi masing-masing.

 

Ikhwatifillah…

Kini secara statistik umat Islam adalah umat terbesar diseluruh dunia tetapi minim keberanian. Giliran dibelahan bumi lain saudara-saudara kita dicerca, dihina dinakan, diinjak-injak martabatnya sementara kita hanya berdiam diri, acuh tak acuh dengan dalih, “mereka berada jauh disana tidak mungkin dapat menjangkau dan membantu secara langsung.”. Ya, benar demikian. Tapi bukankah sebagian dari harta kita ada hak mereka, bukankah doa-doa yang kita panjatkan disepertiga malam kekhusyuan dapat mengapit tangan-tangan malaikat agar memberikan mereka keberanian sementara tentara laknatullah terbirit-birit.

Benarlah sabda Rasulullah SAW, “akan datang suatu masa dimana umatku tampak seperti hidangan dimeja makan yang siap dilahap dari segala penjuru” kurang lebih demikian (bukan redaksi asli). Jumalah kita umat Islam saat ini sangat-sangat banyak namun tak berdaya bagai buih di lautan. Semoga pula kita tak segera merasa bangga akan kuantitas kita yang semakin bertambah, biarlah itu menjadi sekedar penyemangat. Sebab kebanggan yang berlebihan boleh jadi justru sebagai pemicu kemunduran kita, mengapa? Refleksi Perang Hunain sudah menyatakannya. Yang terpenting sekarang adalah mengokohkan militansi kita melalui penguatan ruhiyah, fikriyah,dan Jasadiyah. Dengan demikian Insya Allah semua itu dapat menopang kedekatan kita kepada Allah. Menjadi hamba yang kian bersyukur seiring bertambahnya pemahaman dan kekuatan kita. Model taqarrub Inilah yang kita butuhkan setiap saat, disaat penat mulai menyelimuti ketika kembali dari rombongan masyarakat, disaat kelelahan mencekak keterbatasan berpikir dalam menyelesaikan program-program perbaikan umat, disaat onak dalam hambatan dakwaha mulai terasa perih menjenuhkan, maka mari kita kembali keperaduan ruhiyah. Diperaduan itu kita memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Diperaduan itu kita mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah.

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, 41. (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS. Al-Hajj : 40-41)

  • Intelektual.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al Mujaadilah : 11)

Ayat diatas menjelaskan bahwa paket ditinggikannya derajat seorang hamba disisi-Nya tidak cukup seorang hanya memiliki komitmen dan keistiqomahan iman. Tetapi selain dari pada itu, mesti ada yang lebih melengkapi yakni ilmu pengetahuan atau wawasan atau intelektual. Dalam firman-nya Allah SWT berulang kali dengan frekuensi yang banyak pada kalimat afala ta’qilun, afala tatafaqqarun. Hal ini dibuktikan dalam kamus yang memuat kosa kata Al Quran, dinyatakan bahwa kata ‘ilm (ilmu) disebutkan sebanyak 80 kali, dan kata-kata yang terbentuk dari kata tersebut (seperti a’lamu,ya’lamuna dst.) disebutkan beratus-ratus kali. Selain itu, jika kita teliti buku-buku hadits Nabawi akan kita temukan di dalamnya judul-judul dan masalah-masalah tentang ilmu.

Seorang yang memiliki kemampuan menelaah serta menganalisis suatu perkara dengan dasar ilmu yang dimilikinya maka hasilnya pun merupakan keputusan lebih banyak tepatnya dan lebih barhati-hati saat menentukan duduk perkaranya. Inilah contoh orang yang bijaksana. Orang yang memiliki wawasan, apapun keahliannya, ia tak kan pernah gentar ketika dalam keadaan apapun, dimanapun dan kapanpun sebab ia bermodalkan kelebihan berupa ilmu yang dapat ia jadikan sebagai solusi. Olehnya mengapa pula Nabiullah Sulaiman As. Lebih memilih ilmu dari pada kekayaan dan jabatan ketika ditawari. Karena Ia tahu betul hakikat dan manfaat ilmu.

Sekian rentetan mahawir-mahawir dakwah telah kita lalui dan kini kita bergumul bersama ramainya panggung politik dan bersiap naik pada podium negara. Dari podium itu kita akan bekhotbah dengan lantang :

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa

mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur

sebagai penebus bagi kehormatan mereka,

jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan,

kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka

jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini

selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

menguasai perasaan kami,

memeras habis air mata kami, dan

mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati kami menyaksikan bencana

yang mencabik-cabik bangsa ini,

sementara kita hanya menyerah pada

kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa

kami membawa misi yang bersih dan suci,

bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia,

dan bersih dari hawa nafsu.

Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia,

tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,

tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah

terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

serta kebaikan dari Allah – Pencipta Alam semesta

Subhanallah…

Ikhwahfillah, sebuah cita-cita fenomenal terjerat dalam perangkap misi kita dan ia mesti terbebas, lepas, berlari kesetiap jengkal bangsa ini menembus fitrahnya sehingga tak hanya generasi Rabbani tapi harus ada Negara Rabbani, baldathun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Bangsa ini sudah terlanjur kenal dengan kita, sudah terlanjur tahu akan cita-cita besar kita. Maka tak ada pilihan lain ikhwah, kecuali “pembuktian”, “realisasi”, “pencapaian”  dan “kemenangan”. Namun semua itu tak dapat tercapai kalau modal yang satu ini tak dipenuhi, Integritas Intelektual.

Tantangan yang kan kita luluhkan semakin “cakap”. Seiring laju modernisasi tecknologi dan  pembaruan sains, fenomena ini ternyata menjadi keluangan yang sangat menjanjikan bagi para penghembus seruan musuh Allah. Mereka (musuh Allah) bukanlah sosok yang biasa-biasa saja tapi lebih dari itu, mereka adalah akademisi handal, profesor handal, peneliti unggul, teknolog ulung. Lihatlah ikhwah, berapa kali hukum dipermainkan, undang-undang sebagai penghalalan haram, mesti berapa banyak birokrat yang tersangka korupsi?, tak terhitung berjubelnya situs porno di internet maupun media cetak.

Ikhwafillah, sampai berapa lama mereka kita biarkan bercokol disan? Dijalur-jalur media, didipan-dipan birokrasi, dimeja-meja pengadilan. Kita tak punya pilihan kedua selain “menggantikan” sosok-sosok itu oleh diri kita sendiri. Inilah yang saya maksud tantangan kita ikhwah. Para intelektual bermisi syaitan. Maka senjata yang kita gunakan haruslah sama atau lebih yakni intelektual. Dengan demikian jika generasi dakwah ini, yang lurus fikrahnya, bersih hati dan pikirannya dan berdaya integritas intelektual yang menjulang maka pilihan kita pun hanyalah dua kemungkinan, “menggantikan atau kemenangan”. Aktivis yang sebagian besar berlatar civitas akademika, besar dan dibesarkan diperguruan tinggi semestinya sangat berpeluang menghantarkan resiko perjuangan ini, dan  harus !

Aktivis kampus berperan menginvestasikan karya-karya intelektual, berinovasi dalam penelitian-penelitian mutakhir, menyumbangkan ide-ide cemerlang untuk keberlangsungan pendidikan, menguasai simpul-simpul teknologi yang kian berkembang.

 

 

  • Ø Ideology / Idealisme.

“ Berbeda muslim yang hanya beragama Islam dengan muslim yang memiliki visi islam “.

Ideologi yang dimaksud adalah sebuah tatanan nilai yang dianggap kokoh dan benar sehingga diperjuangkan dan dipertahankan oleh penganutnya.

Dimana ada komunitas yang berdiri maka sesungguhnya disana tertanam ideologi yang sangat mendasari komunitas tersebut terbentuk, bergerak dan berlanjut. Ideologi yang telah tertanam silam dan kokoh maka dipastikan akan sangat sulit mengentas. Ia ibarat napas yang mengharu ditubuh penganutnya. Dalam kondisi tercekik sekalipun ideologi akan tetap melekat hingga titik darah penghabisan, pertahanan. Teringatlah kita kalimat yang sering di koarkan para petugas pemadam kebakaran, “ Pantang pulang sebelum api padam” , dan inilah sebuah muatan nilai ideologi yang telah terdoktrinasi kedalam pikiran dan nurani sang pemadam. Ada potret yang lebih menarik rasanya, coba kita hadirkan kembali secuil kisah dari awal risalah.

 

Tubuh itu terlalu mulia untuk didebamkan terhina dikulit pasir yang halus namun menyergap tajam pori, sengatan matahari menyisir garang kelewat pedih. Peluhnya meluap. “Ahad, Ahad…Aaa…haad”  sengal kalimat itu mengucur namun teguh dibawah apit induk bongkah batu yang menindih cadas. Sementara, belaian sadis cambuk sang majikan terus terhujam menghujani tubuhnya. Ia memang berkulit hitam namun  hatinya sesalju. Bilal Bin Rabbah.

 

Adakah kita sedang menyaksikan suatu pemandangan narasi. Ikhwati, demikian ia disebut ideologi. Pertanyaannya, seberapa besar pengorbanan yang akan kita siapkan demi ideologi ini ? berapa banyak bekal untuk sekedar bertahan memikulnya? seberapa siap diri ini membelanya ketika tiba saatnya dirundung usikan?.

 

  • Manhaj/Metodologi

Metodologi yang dirumuskan oleh setiap pergerakan adalah sebagai arah, pedoman dan panduan dalam menyusun konsep disetiap agenda-agendanya. Tanpa metodologi yang jelas dan sistemis maka terkaman panghancur telah laun mengintip. Dengan mudahnya padatan itu bisa terberai sebab tak ada metodologi yang menyelimuti sebagai imunitas yang mendaya besarkan kumpulan itu. Jika ideologi adalah napasnya bukankah manhaj mesti sebagai organ-organ penyusunnya. Dalam keberjalanannya, manhaj sebagai momok perapian oleh komunitas apapun. Ia akan nampak sebagai performansi yang menjelaskan karakteristik strukturnya.

 

  • Ø Kefitrahan

Fitrah kita adalah Islam. Sebuah modal tak terbantahkan yang selalu lahir diragam kondisi dan peradaban. Dimasa awal peradaban Islam mencapai kejayaan emasnya kita memperoleh kesan Islam yang membahana  diseluruh rampai kehidupan, kekuasaan politik dipenjuru 2/3 dunia, zakat yang mensejahterahkan, ukhuwah sebagai warna masyarakatnya, masjid pusat peradabannya, ekonomi syariah dijunjung tinggi dan budaya memikat yang menenteramkan jiwa, seninya memesona diantara kesederhanaan. Sejenak diabad pertengahan Ia terlelap.

Kini kita sedang menanti kebangkitannya, sistem-sistem politik, ekonomi dan tatanan sosial berlatar desain kaum western perlahan mendekati bibir jurang kepunahan. Dunia yang tadinya dilumuri gelimpangan racun berwaktu sudah terlanjur kecanduan, saat ini kian melirik pada Dinul Islam. Kegersangan diruang peradaban dunia saat ini mendengus  harap segera menemukan pelipur dahaganya. Islam pasti punya penawarnya.

Alam pun menjadi bagian dari fitrah itu. Kisah yang satu ini sepertinya dapat memberikan kita pencerahan itu. Dalam perang Qodisiyah, para sahabat ketika itu menemui sungai yang sangat deras arusnya. Mereka berkata : “wahai air, kita sama-sama Jundullah, bantulah kami karena sedang melaksanakan tugas.” Akhirnya air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.

 

  • Ø Institusional.

 

Raja yang akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar

Pasti tak punya menteri yang sedia tiap saat dipanggil menghadap

Justru dia yang akan mengunjungi mereka untuk meminta nasehat

Sebab tugas besar hanya bisa dituntaskan oleh mereka yang berjiwa besar

Institusi yang dimaksud disini adalah jama’ah. Betapa banyak hal-hal yang kecil namun ia tak cukup dapat diselesaikan seorang diri dan tak jarang sepuncak perihal teramat pelik dengan remeh dapat luluh oleh sentuhan bersama. Ikhwafillah., demikian pula perihal dakwah yang senantiasa menuntut kontribusi diri ini. Kerja-kerja kita masih menjulang dan pekerjaan itu tak akan dapat terselesaikan bila tiada kebersamaan. Bekerja sama dan sama-sama bekerja. Berjamaah.

Ketika tantangan dakwah berat dan sulit, ada tawasshou bish shobr sehingga menimbulkan daya tahan.

Ketika seseorang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, potensinya tidak akan terpuruk. Tapi sepertinya kebersamaan saja tidak cukup. Ada kebutuhan dimana agar  kebersamaan itu membuahkan haisl yang sudah selayaknya memperlihatkan kekokohan kita. Maka ia butuh yang kita sebut  sistem. Dengan adanya sistem yang jelas inilah kerja-kerja yang kita rencanakan dan akan kita kerjakan lebih jelah arah, tujuan dan parameternya.

Sistem inilah yang mampu merapikan barisan kita jikalau suatu ketika ada kebimbangan, kesenjangan yang sudah barangkali akan kerap menguji pertahanan institusi. Sistem merupakan roh bagi sebuah institusi. Kalau sejenak kita memandang keluar, maka kita akan melihat betap ramainya seliweran sistem-sistem yang sedang bertahta. Ini berarti bahwa ada sistem-sistem selain kita. Entah itu sistem yang mengusung misi perbaikan ataukah sebaliknya. Disinilah kebutuhan akan pentingnya sebuah institusi bersistem rapi dan terukur serta jelas dasarnya. Maksudnya tantangan yag kita hadapi adalah sistem maka senjata kitapun mesti sistem yang lebih baik.

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration