Marhaban Yaa Ramadhan!

Alhamdulillah, akhirnya tak terasa bulan Ramadhan nan suci kini telah menghampiri kita dengan segenap kemuliaan dan kebarokahan yang dibawanya. Bulan yang disebut-sebut sebagai bulan penuh rahmat, berkah, ampunan, dan kasih sayang Allah ini tentu telah dinanti-nantikan oleh berjuta-juta umat muslim yang tersebar di seluruh belahan dunia. Beruntunglah kita yang masih diberi kesempatan umur oleh Allah, sehingga kita bisa berjumpa kembali dengan tamu agung yang sangat dielu-elukan oleh semua orang beriman ini. Di bulan inilah, Allah mengobral pahala dan ampunan secara habis-habisan. Dia berikan kasih sayang, ampunan, dan rahmat-Nya kepada kita secara cuma-cuma, gratis, dan tanpa syarat. Seluruh ibadah yang apabila kita kerjakan di bulan ini hanya demi mengharap ridho Allah semata, akan dibalas oleh-Nya dengan pahala yang berlipat-lipat dan apabila kita melakukan perbuatan dosa, entah itu secara sengaja maupun tidak, maka akibat dosa yang kita terima itu dihitung satu dosa, tergantung sebanyak apa dosa yang kita perbuat itu, tanpa perlu digandakan lagi oleh Allah. Lihat, betapa pemurahnya Allah dan betapa sayangnya Allah kepada umat-Nya! Oleh karena itu, tak heran apabila bulan ini menyandang gelar sebagai bulan penuh berkah, terutama bagi umat muslim, karena memang bulan ini penuh dengan hikmah, pahala, dan ampunan dari Sang Robbul Izzati. Di bulan ini pulalah momentum diturunkannya Al-Qur’anul Karim, bulan dimana semua pintu surga dibuka seluas-luasnya, semua pintu neraka ditutup serapat-rapatnya, dan dibelenggunya para syetan, sehingga tak salah bila Allah memilih bulan ini sebagai bulan yang amat dimuliakan. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW :

“Jika bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para syetan dibelenggu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Karenanya, sebagai hamba Allah yang beriman, sudah semestinyalah kita bersiap-siap untuk menyambut kedatangannya, sebagaimana Rasulullah SAW dan para shahabatnya senantiasa mempersiapkan diri untuk menjalani Ramadhan dengan sebaik-baiknya, bahkan dua bulan sebelum Ramadhan tiba. Para shahabat selalu berdebar-debar menanti kedatangannya karena takut tidak berjumpa dengan bulan mulia tersebut. Bahkan, kata Allah, jika saja seluruh manusia tahu keutamaan bulan ini, niscaya mereka pasti menginginkan bahwa seluruh bulan itu adalah bulan Ramadhan.

Di bulan inilah, Allah mewajibkan perintah syiam atau berpuasa bagi kaum muslimin. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqoroh, ayat 183 :

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Berdasarkan ayat di atas, maka sudah jelas bahwa Allah mewajibkan kaum muslimin berpuasa agar mereka bisa mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa. Itu berarti, puasa merupakan salah satu sarana agar kita bisa menjadi orang-orang yang bertaqwa. Namun puasa yang dimaksud bukan berarti hanya menahan lapar dan dahaga saja. Puasa yang dimaksud di sini lebih dari itu, yakni menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Jadi tidak sekadar hanya menahan lapar dan haus saja. Puasa juga harus dilakukan dengan penuh keikhlasan, keimanan, serta hanya mengharap ridho Allah semata. Rasulullah SAW bersabda :

”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Di bulan ini pula, terdapat bonus dari Allah yang berupa malam ‘Lailatul Qodr’ yang berdasarkan informasi dari Nabi SAW, malam yang penuh kemuliaan ini terdapat di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Siapa saja yang melakukukan qiyamullal lail, tilawah Al-Qur’an, dan ibadah lainnya di malam tersebut, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan ia akan mendapat kebaikan lebih banyak daripada 1000 bulan! Subhanallah!

Di bulan ini pula, saat-saat dimana doa seorang muslim didengar dan dikabulkan doanya oleh Allah. Ramadhan merupakan waktu diijabahkannya doa seorang muslim terutama orang yang berpuasa, apalagi di saat ia hendak berbuka . Rasulullah SAW bersabda :

“Orang yang berpuasa ketika ia hendak berbuka, maka sungguh doanya tidak akan tertolak.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)

Lihatlah dari apa yang sudah dijelaskan tadi bahwa betapa pemurah-Nya, betapa sayang-Nya, dan betapa pengasih-Nya Allah SWT kepada kita, umat-Nya, yang masih sering lalai dari mengingat-Nya serta lalai dari segala perintah dan larangan-Nya. Ramadhan memang merupakan saat-saat ‘pembersihan diri’ seseorang dari segala lumpur dosa karena segala keutamaan yang dikandungnya, dari mulai dosa-dosa yang terampuni, segala ibadah dan amalan yang pahalanya dilipatgandakan, mendapat kebaikan yang lebih banyak dari 1000 bulan di malam Lailatul Qodr, diijabahkannya doa seseorang yang berpuasa, dan tentu masih banyak lagi keutamaan yang dibawa bulan ini.

Tapi sebelum itu, marilah kita beralih sejenak dulu. Kita coba berandai-andai. Jika sekiranya di suatu hari menjelang Ramadhan, ada seseorang yang mendatangi kita, lalu ia mengabarkan bahwa kita ternyata mengidap suatu penyakit yang sudah kronis dan ternyata umur kita sudah tak lama lagi serta tinggal menghitung hari, apa yang akan kita lakukan? Atau jika seandainya malaikat Izrail datang kepada kita dan memberi tahu kita bahwa pada bulan Syawal tahun ini ia akan datang mencabut nyawa kita, dampak apa yang akan timbul pada diri kita? Tentulah kita pasti akan memanfaatkan sisa umur kita dengan sebaik-baiknya dan mengisinya dengan segala bentuk peribadatan. Dan jika ternyata umur kita disampaikan oeh Allah di bulan Ramadhan, kita pasti akan mengawali bulan tersebut dengan menyungkur sujud kepada-Nya dengan penuh rasa syukur, haru sekaligus penyesalan, menangisi segala khilaf dan dosa yang telah kita perbuat di masa lalu, serta memohon pengampunan dan belas kasih-Nya atas dosa-dosa yang kita lakukan. Tak lupa, kita pasti juga akan mendatangi orang-orang yang telah kita sakiti hatinya serta kita dzalimi untuk memohon maaf darinya. Kita pasti juga akan berusaha sekuat tenaga untuk menuntaskan segala tanggungan di dunia, baik itu utang-utang yang belum terbayar, amanah-amanah yang masih menjadi beban, maupun tugas dan kewajiban yang belum ditunaikan.

Bayangkan jika Izrail memberitahu bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita! Pastilah kita sudah tidak akan tertarik lagi untuk mengisi hari dengan lelapnya tidur. Kita tentu tidak akan mengeluhkan beratnya puasa di siang Ramadhan. Kita pasti akan melakukan sholat tarawih, tahajud, taubat, qiyamul lail dan ibadah yang lain dengan penuh kekhusyu’an. Kita akan mengiringi tiap hembusan nafas ini dengan lantunan dzikir, menemani detakan jantung dengan kalimat istighfar. Jika saja Izrail memberitahu kapan ia akan datang menjemput nyawa kita, kita pasti akan mempersiapkan diri kita sebaik mungkin agar di penghujung usia kita bisa menemui akhir yang khusnul khatimah. Umur manusia memang misteri dan hanya Allah semata yang mengetahuinya. Kita tidak tahu kapan usia kita akan berakhir. Namun terkadang kita lupa bahwa Allah menjadikan usia kita sebagai misteri justru agar kita bisa mendayagunakan akal dan pikiran kita, bahwa kita bisa mati kapan saja. Dan betapa bodohnya kita, ketika kita mengetahui bahwa kematian bisa datang kapan pun, namun kita masih saja dengan tenangnya mengerjakan kemaksiatan dan pekerjaan yang sia-sia dalam hidup tanpa rasa malu sedikitpun dilihat oleh Allah. Mengingat kematian adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas hidup kita. Rasulullah pernah mewanti-wanti,

“Perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan, yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata, ‘Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat'”.

 

Optimalkan Ramadhan Kita!

Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kita untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari segala dosa-dosa yang kita lakukan. Karena itu, betapa meruginya kita, apabila kita tidak memanfaatkan kedatangan bulan mulia ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka memperbaiki dan membersihkan diri. Betapa celakanya kita, apabila setelah Ramadhan berlalu, dosa-dosa kita masih belum diampuni Allah dan masih saja menggunung.

“Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani)

Lalu bagaimana agar ibadah Ramadhan yang kita jalani kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya, tidak berlalu dengan sia-sia saja dan dipenuhi dengan segala produktivitas? Berikut beberapa kiat-kiat jitu agar ibadah Ramadhan kita lebih ‘berisi’ dan lebih bermanfaat :

1. Perbanyak Doa

Sudah selayaknya dan sudah seharusnyalah kita memperbanyak doa kita kepada Allah, baik itu sebelum, di saat, dan sesudah Ramadhan. Hal itu agar supaya kita dapat dipertemukan oleh Allah dengan bulan Ramadhan dalam kedaan sehat, bersemangat dalam melakukan segala macam ibadah dan amal-amal shalih yang lain saat Ramadhan, dihindarkan dari segala macam hal yang sekiranya dapat menganggu atau mengurangi produktivitas kita dalam beribadah selama Ramadhan, dan tentunya dapat dipertemukan lagi oleh Allah dengan Ramadhan berikutnya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW semenjak memasuki bulan Rajab, beliau senantiasa berdoa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ (حديث ضعيف رواه أحمد والطبراني).

“Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan umur kami di bulan Ramadhan”. (Hadits dho’if diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabarani).

Dan saat beliau SAW melihat munculnya hilal yang menjadi pertanda awal bulan, beliau berdo’a :

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ (رواه أحمد والدارمي واللفظ له، ورواه أيضا ابن حبان وصححه)

“Allah Maha Besar! Ya Allah, jadikanlah hilal ini hilal yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridhai Tuhan kami, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah” (H.R. Ahmad dan Ad-Darimi, redaksi yang dipergunakan adalah redaksinya, juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai shahih olehnya).

Diriwayatkan juga bahwa pada saat Ramadhan tiba, beliau SAW berdo’a:

اَللَّهُمَّ: سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ لِيْ مُتَقَبَّلاً. (رواه الطبراني في الدعاء والديلمي)

“Ya Allah, selamatkan aku untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku.” (HR Ath-Thabarani dan Ad-Dailami)

2. Anggaplah Ramadhan Kali ini sebagai Ramadhan Terakhir Kita

Jika kita menanamkan pikiran atau anggapan ke dalam mindset kita bahwa Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang kita jalani dan belum tentu ada jaminan bahwa kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan selanjutnya, maka tentunya kita tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada barang sedetik pun untuk hal-hal yang kurang berguna atau sia-sia. Kita pasti akan mengoptimalkan waktu-waktu selama Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan tak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Camkan dalam pikiran dan lubuk hati kita, bahwa apabila kita kehilangan momentum Ramadhan kali ini, berarti kita telah kehilangan momentum emas yang sangat berharga untuk menyucikan dan membersihkan diri kita dari segala genangan lumpur dosa dan maksiat.

3. Isilah Ramadhan dengan Kegiatan atau Agenda-agenda yang Terencana dan Jelas

Cantumkan langkah-langkah aktivitas yang harus dilakukan setiap hari, mulai bangun tidur, membaca dzikir setiap pagi hari, membaca Al-Qur’an, bekerja, belajar, shalat jamaah, membantu orang tua, dan sebagainya. Tujuannya agar segala yang hendak kita lakukan menjadi lebih terencana, fokus, dan terarah. Kita juga akan menjadi lebih mudah dalam melakukan evaluasi atau muhasabah terhadap kuantitas dan kualitas kegiatan maupun ibadah yang dilakukan agar esoknya kegiatan maupun ibadah yang hendak kita lakukan menjadi lebih baik lagi dibanding hari itu. Seperti ungkapan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab pada hari kiamat!”

4. Jauhi Sikap Malas dan Suka Menunda-nunda Amal Ibadah

Berusahalah sekuat tenaga agar tidak mengorbankan atau mangkir dari agenda kegiatan yang telah kita susun. Sekali saja kita mangkir dan mengorbankan agenda tersebut, hal itu akan sangat mempengaruhi turunnya semangat kita untuk melanjutkan kegiatan berikutnya. Tanamkan pula sikap untuk tidak mudah tunduk pada perasaan lelah dan malas dalam mengerjakan amaliyah Ramadhan. Hal ini merupakan bentuk mujahadah melawan keinginan hawa nafsu untuk tidak melakukan amal kebaikan dengan berbagai alasan.

5. Hindari Pekerjaan yang Terlalu Berat di Siang Hari

Hal ini sangat wajar, karena bagaimanapun di bulan Ramadhan, kita memiliki tingkat aktivitas yang padat di malam hari dengan berbagai macam ibadah. Terlalu lelah bisa mengakibatkan tubuh malas dan bisikan syaitan pun semakin mempunyai alasan untuk melemahkan fisik, tekad, dan niat kita.

6. Hindari atau Kurangi Aktivitas yang Bernuansa Hiburan

Sebisa mungkin, kita sebaiknya mengurangi atau menghindari aktivitas yang hanya bernuansa hiburan yang tidak memiliki kaitan dengan ibadah di bulan Ramadhan, seperti misalnya menonton TV, film, mendengarkan lagu-lagu yang melalaikan diri kita dari beribadah kepada Allah, hangout, bermain musik, dan lain sebagainya. Pandangan mata, pendengaran telinga, dan segala aktivitas lahiriah akan sangat mempengaruhi kualitas ibadah dan amal sholeh yang kita lakukan.

7. Sering Berada di Komunitas dan Lingkungan yang Mengajak Kita Untuk Mengingat Allah

Jika kita sering berada di lingkungan yang kondisinya menumbuhkan semangat kita untuk beribadah kepada Allah, maka hal itu akan sangat memudahkan kita dalam melakukan berbagai amaliyah kebaikan. Memperbanyak shalat di masjid, memperbanyak berdiskusi dengan rekan-rekan yang mengingatkan pada hal-hal yang bermanfaat dan kebaikan, serta bertemu dan bergaul dengan orang-orang shalih akan memberi suplai semangat dan tenaga baru dalam jiwa kita untuk melakukan ketaatan.

8. Hindari Terlalu Kenyang Ketika Berbuka Puasa

Ini kondisi yang sangat sering terjadi bagi orang yang berpuasa dan ternyata merusak nilai puasa. Jangan dikira bahwa kita hanya menahan hawa nafsu saja saat tengah berpuasa, lantas kemudian ketika berbuka kita boleh ‘membalaskan dendam’ nafsu kita dengan makan dan minum sepuasnya. Tujuan dari berpuasa salah satunya adalah untuk pengendalian diri (self of control), terutama mengendalikan nafsu. Apabila ternyata kita masih kalah dengan nafsu kita sendiri, maka itu berarti kita masih belum optimal dalam berpuasa. Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin, menyebutkan bahwa tidak ada wadah yang paling dibenci oleh Allah selain perut yang penuh dan kenyang dengan makanan halal.

9. Lakukan Muhasabah dan Evaluasi

Sebelum tidur, kita sebaiknya melakukan muhasabah dan evaluasi diri terhadap amalan yang telah kita lakukan sepanjang hari itu. Munculkan tekad dan semangat untuk bisa melakukan amalan yang lebih baik lagi di esok harinya.

10. Tunaikan Ibadah I’tikaf di Masjid di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Berusahalah untuk berada di masjid di waktu malam, terutama di sepuluh hari terakhir, agar kita bisa lebih berkonsentrasi beribadah dan menghidupkan malam dengan segala bentuk peribadatan kepada Allah. Sesungguhnya sepuluh hari terakhir adalah detik-detik perpisahan kita dengan Ramadhan yang sangat mulia dan dirindukan, karenanya saat itulah kita harus lebih memanfaatkan dan mengoptimalkannya sebaik mungkin.

 

Mungkinkah Ini Ramadhan Terakhir Bagiku?

Dari apa yang sudah dipaparkan tadi, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang dipilih oleh Allah dengan segala kemuliaan dan  keutamaannya. Raadhan merupakan kesempatan emas yang diberikan oleh Allah agar kita semua bisa saling berlomba-lomba dalam meraih maghfiroh, pahala, dan ampunan yang diobral oleh-Nya. Jangan sampai kita malah melewatkannya dan malah menyia-nyiakannya. Jika kita ditawari oleh seseorang dengan uang satu milyar rupiah, akankah kita menyia-nyiakannya? Tentulah kita pasti akan memanfaatkannya dan tidak akan melewatkannya begitu saja, karena kesempatan yang sama tidak akan terulang dua kali. Maka dari itu, marilah kita isi Ramadhan tahun ini dengan amalan terbaik kita. Semoga Ramadhan kita tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Optimalkan dan lejitkan ibadah Ramadhan kali ini, karena mungkin saja inilah Ramadhan terakhir dalam hidup kita.

Andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu,
Pastilah engkau bersimpuh untuk selalu mengingat nama-Nya
Menyanyikan bait cinta kasih dan pujian-pujian untuk-Nya

Andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu,
Pastilah engkau selalu mengingat-Nya setiap saat
Engkau rapikan sholatmu menjadi ala waktiha
tidak seperti selama ini yang hanya fi waktiha
atau bahkan terlalu sering engkau lupakan
Sholatmu pastilah menjadi sangat berkualitas
Khusyu’, tawadhu’ sebagaimana seorang hamba
saat memohon sesuatu kepada Tuannya
Merenungi akan sumpah yang terus saja engkau ingkari
Ingatkah janjimu;
bahwa sholatmu, ibadahmu, hidup dan matimu
hanya engkau serahkan kepada-Nya?

Andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu,
Pastilah rumahmu akan senantiasa engkau hiasi dengan amal sholeh
Engkau tak akan melepas sedetikpun tanpa melantunkan firman-firman-Nya
Siang, malam senantiasa mengabdi pada-Nya
Saat siang tiba,
Engkau singkap lebih banyak waktu di antara urusan duniamu
untuk menyatakan cintamu kepada-Nya
Saat malam tiba,
Qiyamul lail menjadi teman akrab bagimu

Andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu,
Pastilah engkau kenang kembali dosa-dosamu
Durhaka kepada ayah bunda karena telah melupakan mereka
Menangis karena tak sempat berziarah menabur doa untuk mereka
Air mata membanjir dari matamu
Membasahi hatimu yang penuh dosa dan nista

Andai engkau tahu ini Ramadhan terakhir bagimu,
Pastilah engkau akan bercucuran air mata
Mengharap, memohon untuk bertemu Ramadhan berikutnya
dengan nikmat yang telah engkau rasakan

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration