Oleh: Talitha Huriyah*

Tidak ada yang salah dengan ajaran Islam dalam soal lingkungan hidup. Tetapi kesalahan terjadi pada bagaimana cara kita mengajarkan Islam kepada masyarakat.” (Buya Hamka)

Begitulan jawaban yang terlontar dari Prof. Haji Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) ketika ditanya oleh Emil Salim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Pada dasarnya umat Islam akan tersentuh oleh hal praktis jika bisa langsung dirasakan oleh mereka. Umat Islam adalah penduduk terbanyak yang memanfaatkan air untuk keperluan thaharah. Darimanakah air yang suci dan mensucikan diperoleh? Jika dirunut lebih jauh, saat ini banyak air yang tercemar, sampah dimana-mana, hutan sebagai penyimpan sumber air alami merupakan sasaran kapitalis empuk dari illegal logging. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban umat Islam dengan predikatnya sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga lingkungan.

Sungguh suatu ironi, aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia seolah-olah menomorduakan kelestarian lingkungan. Padahal Allah swt. secara nyata menjelaskan, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” [QS. Al-Mulk (67): 15]. Era modern dengan kemajuan teknologi yang ada kurang diimbangi dengan upaya pelestarian alam. Hal ini terbukti bahwa dalam rentang waktu kurang dari 200 tahun kemajuan teknologi serta aktivitas industri mampu menimbulkan kerusakan biosfer yang sudah berusia 500 juta tahun  ini.

Perlahan tetapi pasti, degradasi lingkungan menjadi konstruksi masalah yang saling berkaitan. Polusi udara, global warming, pencemaran air, carbon trading, kelestarian ekosistem terumbu karang, illegal logging serta sekian banyak masalah lingkungan di hadapan kita.  Bukan tidak mungkin, ambang kritis yang tidak diharapkan terjadi seiring berlalunya waktu dan semakin melampaui batas segala aktivitas manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Abnormalitas sistem hidrologik alam akibat pemanasan global dapat menaikkan tinggi permukaan laut sebesar 1cm/tahun untuk kenaikan suhu 2°C. Dengan data ini, Pulau Bali diperkirakan tenggelam pada tahun 2050. Didukung dengan eksploitasi air tanah berlebih, Kota Jakarta akan tenggelam 25% jika tidak diimbangi regenerasi hutan. Bahkan, Indonesia mendapat ‘penghargaan’ yang tercatat dalam Guinness World Record sebagai negara dengan tingkat penebangan hutan tercepat di dunia yakni 1,8 juta hektar/tahun antara 2000-2005 dengan rata-rata 51 km2 setiap harinya.

Rasulullah saw. telah mendidik kita untuk menjaga ekosistem alam dengan berbagai upaya: “Barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim).

Senada dengan hal tersebut, Allah telah menerangkannya kepada kita, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” [QS. Al-A’raf (7): 56]

Berkaca dari masalah di atas, dibutuhkan keselarasan dari semua pihak seperti pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Sebagai khalifah di muka bumi hendaknya memelihara nikmat yang telah dikaruniakan Allah swt. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk mengeksplorasi sebesar-besarnya karunia tersebut tanpa mengesampingkan lingkungan sebagai tempat tinggal generasi berikutnya.

5 Juni ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita bersama. Sudahkah ada hal yang dilakukan untuk menjaga lingkungan hari ini? Jika belum, maka dari sekarang mari kita membiasakan dari diri sendiri. Menjadikan aktivitas memelihara lingkungan sebagai bagian gaya hidup pertama dan utama. Purna diharapkan agar kita bisa memahami, merenungi serta menyingkap hikmah di balik masalah lingkungan yang ada. Harapannya Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011 mampu menggugah kesadaran umat Islam mengenai perlunya komitmen, pandangan, prinsip serta tindakan nyata untuk lingkungan sebagai salah satu upaya beribadah pada-Nya. Semoga!

*Bergiat pada Forum Lingkar Pena Solo

 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration