Tulisan karya ketua Umum JN UKMI Uns 2011 yang akan dilaunching menjadi buku ” The Inspirator” seri  ketiga


3. Ketika Tekad Menghujam

Kami tegakkan jua serahkan dengan tekad dihati

Jasad ini, darah ini, sepenuh ridho Ilahi…

 

Subhanallah… Allahu Akbar..!!!

Ikhwatifiddin, decak kagum tentunya segera terbit disaat tinta menorehkan kehebatan,ketangkasan, kekuatan, dan kebesaran jiwa para generasi-generasi terdahu lu, lestari masa keemasan-kejayaan itu digoreskan, jutaan ensiklopedia dan referensi ternama bersedia membuktikan semua itu. Kita boleh bertanya pada “sejarah” yang menjadi saksi keberadaan mereka. Bahwa kita pernah berjaya, kita pernah memilki kekuatan terdahsyat. Dan semua itu tercipta dengan satu gelora, “TEKAD”.

Terkadang kita masih ambigu dalam memberi batasan antara tekad dan semangat. Tetapi sebenarnya memang berbeda. Kalau semangat yang diinginkan maka ia akan lahir dari doktrinasi eksternal namun lebih “bertahan” jika membuncah dari bisikan terdalam irama qalbu. Sedangkan tekad adalah sebuah benih yang   akan terus tumbuh,akan kian menyeruak, menggema dalam spatio jiwa. Secara sederhana, tekad merupakan instrument insani yang telah terpatri sejak jasad lekat bersama ruh, karena tekad adalah genderang yang menderu dari jiwa-jiwa yang salim,bersih. Ia adalah bisikan rabbaniyah dan bisikan itu tak kan pernah menyapa hati yang berlumur  noktah. Karenanya tekad dipastikan hidup menggaung dengan keikhlasan,ketulusan dan kesungguhan. Tak semua manusia memilikinya. Mereka yang memilikinya ialah mereka yang hidup pula hatinya bersama cahaya Allah. Itullah sebabnya ikhwatifillah, mengapa semangat hanya bertahan beberapa waktu saja serta diikuti pula dengan down-nya kondisi tubuh. Namun tidak dengan tekad, walaupun suatu ketika tubuh demikian renta dan rapuh tetapi disana ada “sumber” yang terus berusaha menggerakkan. Seakan ia ingin terus berkarya, ia tak ingin dicerca masa dan kelemahan. Itulah tekad. Betapa dahsyat tekad yang bertengger pada jiwa Nabi Daud As dimana tubuhnya saat itu telah lumat,pupus oleh gerogot ulat. Bukankah tekad yang membuat Bilal tetap tegar dibawah beratnya tindihan batu dan sengatan ganas matahari. Thalhah yang sekuat tenaga melindungi tubuh Rasulullah dan panji  ketika perang Uhud padahal tubuhnya sendiri telah terpisahkan hunusan pedang. Adakah selain tekad yang senantiasa menyulut langkah para mujahidin yang tergerak dari seruan seorang yang lumpuh, Syaikh Ahmad Yasin.

Begitulah tekad itu menjelma dan bersarang dalam pribadi-pribadi agung itu. Sekali lagi mereka agung karena tekad, mereka abadi karena tekad. Sebab Ia bersemi dengan sisi-sisi keimanan. Sedangkan derajat kemuliaan kita dari bukankah dari kadar ketakwaan ? Inna akramakum ‘indallahi athkakum.

 

Nantikan seri lanjutan dari buku ini……

 

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration