Tulisan karya ketua Umum JN UKMI Uns 2011 yang akan dilaunching menjadi buku ” The Inspirator”

 

Sejak saat itu…

Juli 2010, di penanggalan 1-5 , tiba-tiba lingkup Universitas ternama itu mendadak dikerumuni hamburan para mahasiswa se Indonesia. Panji-panji menjulang disekelilingnya. Dan bisa diterka. Ya, ada sebuah perhelatan akbar disana. Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional XV, dan Universitas ternama itu adalah Universitas Pattimura Ambon. Sesuatu yang agaknya hal biasa bagi saya sebagai orang timur tapi tidak bagi ratusan rekan-rekan aktivis Lembaga Dakwah Kampus saat itu yang sebagian besar asal domisili bagian barat. Terang saja, langka, sebuah hajatan besar berskala nasional dilaksanakan di bagian timur negara ini.

Kita tidak sedang bernostalgia untuk memorial itu. Tapi mungkin akan kusampaikan bahwa bertemunya antum- antunna dengan catatan renik ini bermula dari pertemuan kita di persada timur itu. Sebuah perjalanan yang menghembuskan  keinginan untuk  menitikkan potongan-potongan perenungan itu, disini.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin… Jazakallah khairan khatsiran bagi akhuna Afif yang rela meluangkan waktunya demi menemani saya disaat-saat saya menanti  kapal menuju Papua selama 7 hari. Dimana Cuma tinggal saya saja peserta yang masih berada di Ambon ketika itu. Syukron katsir buat rekan-rekan KAMMI Komisariat IAIN Ambon yang sudah menyempatkan saya bertelekan dalam penantian di komisariat, lagi-lagi selama 7 hari.  Jazakallah khair buat saudara-saudari kafilah UNS Solo. Teruntuk seluruh ikhwah  aktivis dakwah kampus yang meracik inspirasi fenomenal bagi saya. Bagi seluruh aktivis  LDK Al Ikhwan Universitas Pattimura kalian menyulut ghirah kami yang gigih berjuang dalam kondisi yang  bagi kami tidak se ideal medan tempat kami bersyiar. Bagi keluarga baruku all personil takmir Masjid Nurul Huda UNS, jazakkallah atas semua perhatian dan kasih sayang untuk adik kalian ini.

Special love, buat yang tercinta ayahanda ibundaku yang saat itu diuji Allah dengan gempa 7,1 SR, maafkan ananda yang sangat terlambat pulang kerumah.

Jadi, sejak saat itulah…

Saya mengajak antum antunna untuk sekedar berbincang tentang diri kita, keseharian kita, aktivitas kita, dan yang terpenting adalah umat ini.

“13…sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambahkan petunjuk kepada mereka. 14. Dan kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata,” Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi : 13-14 )

 

Solo, 31 Desember 2010

Aan Zauqi

 

The Inspirator of Civilization

  1. Karena Niat Telah Memurnikan

Melesat gesit membelah terpaan angin. Tubuhnya gagah nan kokoh, lehernya tegak, pandangannya menjelajah dengan itaran optimis seorang ksatria. Ia masih terus melaju diatas derap tapak kuda perkasa. Baju besi yang membungkusnya membuat Ia semakin yakin akan kepatriotannya. Bahwa Ia adalah seorang mukmin yang bertanggung jawab akan agamanya, Islam yang dicintainya. Semakin jauh Ia menerobos pilar-pilar atmosfir. Kali ini bukan lagi udara yang diterobosnya tetapi setiap  sosok musuh para kafirun yang berada dihadapannya. Pedangnya meliuk hebat. Bergeliat sengit dalam kecamuk Perang Uhud, saat itu. Hingga akhirnya sosok kokoh itupun tumbang. Tubuhnya terluka parah. Dari arena para syahidin dia dikembalikan kepada keluarganya. Mu’adz hadir menjenguk sahabatnya yang begitu perkasa, kemudian bertanya kepada saudaranya, Salamah, “Dia berperang untuk membela kaumnya ataukah marah karena Allah dan Rasul-Nya?”

Salamah menjawab, “Karena Allah dan Rasul-Nya.”

Tak lama berselang Ia meninggal dunia dan masuk surga, padahal sekalipun Ia belum pernah mendirikan shalat sebelumnya. Dialah Amr bin Uqaisy yang saat itu baru saja melafadzkan syahadat.

 

Bismillahirrahmanirrahim…

Ikhwatifillah, kisah diatas hanyalah sepotong dari berbagai deretan kisah-kisah lainnya. Kisah mereka yang melangkah karena Allah, berangkat karena Allah, berbuat karena Allah, mencintai karena Allah dan sekalipun membenci tiada lain karena Allah.

Jalan dakwah ini sudah sekian lama kita retas. Panjang memang, ujung dan tepinya tak kunjung hadir dipelupuk. Didalamnya bersama-sama kita lalui, dengan satu cita-cita agung; mengusung kemenangannya, menjunjung kejayaannya, membagikan cahayanya dan menebar harumnya. Sebab kita memiliki mimpi besar, kita punya harapan mulia, kita kaya dengan keinginan akan terbitnya peradaban yang kita impikan. Cita-cita itu bukan tak mungkin akan jadi kenyataan, bahkan sangat mungkin, sangat realistis. Tetapi persoalannya adalah kapan impian itu bisa terwujud. Secepatnyakah ? atau beberapa abad lagi? Tentunya kita akan menjawabnya dengan seragam, kita ingin secepatnya. Baik, kita ingin secepatnya. Namun sadarkah kita ikhwatifillah, terkadang kita pula yang berperan memperlambat laju kemenangan dakwah ini. Mari sejenak kita renungi, mungkin salah satunya karena kesalahan yang kita perbuat, boleh jadi sebabnya adalah maksiat yang masih sering kita tunaikan ataukah niat kita yang belum murni berjuang.

Dari ‘Aisyah ra. berkata, Nabi SAW. bersabda : “Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukkannya kota Mekkah tetapi yang tetap ada yaitu jihad (berjuang pada jalan Allah) dan niat untuk selalu berbuat baik. Oleh karenanya jika kamu sekalian dipanggil untuk berjuang maka berangkatlah”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Seperti apapun kondisi dakwah ini, bagaimana ketercapaiannya dimasa depan adalah tercermin dari apa yang kita inginkan dari dan untuk dakwah ini, niat kita seperti apa. Tak dapat dipungkiri memang, dakwah ini ada pada beragam genggaman “pejuangnya”. Dan beragam pula niat serta corak “caranya”. Sebut saja idealis, pragmatis dan bersenang-senang.

Idealis, maksudnya mereka adalah golongan da’i yang benar-benar secara sadar dan yakin, atas motif sibghoh yang direngkuhnya,berjuang bahkan rela berkorban apapun baik harta atau nyawa sekalipun. Inilah generasi yang dicintai Allah dan merekapun mencintai-Nya.

Pragmatis, jenis Da’i yang satu ini memang terlihat sangat respek dalam setiap kerja-kerjanya. Bersemangat. Tetapi ketika keinginan yang sangat diharapkan dalam kerjanya selama ini tidak tercapai maka saat itu pula Ia memutuskan untuk hengkang dari jalan ini. niatnya hanya ingin mendapatkan sesuatu. Golongan seperti inilah yang dikhawatirkan memiliki kadar paling tinggi dalam menghambat barokah Allah atas dakwah ini. belum lumat kiranya dari memoar kita bagaimana riwayat para muslim yang terbantai dengan mudahnya sehingga terhantam mundur lalu kalah dalam perang uhud. Dimana karena besarnya keinginan sebagian besar pasukan untuk memperoleh ghanimah (harta rampasan perang) saat itu, bahkan instruksi Rasulullah pun tak diindahkan. Sungguh pelajaran berharga bagi kita para aktivis yang memutuskan berada di jalan ini untuk senantiasa berhati-hati (wara) dalam berjuang. Yang kita inginkan adalah kemenangan bukan keterpurukan. Amiin.

Bersenang-senang, bagi golongan ini berdakwah hanyalah sekedar mengisi jadwal kosong, ketika beraktifitas hanya ingin kerja dan amanah yang ringan-ringan saja. Begitu bertemu dengan  amanah yang harus menyita serta menuntut pengorbanan darinya, dia akan berusaha menolak dan selanjutnya diserahkan kepada yang lain. Berlakon seenaknya saja.

 

Ikhwatifillah, demikian beberapa karakter aktivis dakwah diatas. Semoga kita adalah generasi golongan yang pertama. Bukan golongan yang kedua atau ketiga, golongan yang selama ini mudah dan banyak “berguguran”.  Olehnya, mari kita senantiasa menginstrospeksi dan memperbaharui niat ini sebab ujian akan kekonsistenan niat senantiasa menghampiri. Untuk itu ada baiknya kita simak sebuah kisah berikut ;

 

Dikisahkan, tersebutlah seekor kera yang sedang menaiki pohon kelapa. Berharap bisa mendapatkan buah kelapa untuk dijadikan santapannya. Belum lagi sampai dipangkal pohon tiba-tiba berhembus angin yang sangat kencang. Ia bertahan sekuat tenaga, mencengkeram, mendekap, merapat pada batang pohon. Ia berhasil, tidak sampai tertiup jatuh. Anginpun berhenti. Kemudian pemanjatannya dilanjutkan. Terus merangkak naik. Lagi-lagi angin kencang itu bertiup lagi, sangat kencang, deras. Kera itupun berusaha bertahan sekuat tenaga. Tak lama kemudian angin reda. Ia masih selamat, bisa bertahan. Terus memanjat. Kali ini berhembuslah angin yang berbeda, terpaannya sangat lembut, halus sekali. Membelai sekujur tubuh sang kera. Ia pun merasa nikmat,dirasakannya begitu sejuk dan nyaman. Akhirnya ia terhipnosis oleh angin sepoi-sepoi itu, kelopak matanya mulai berat, mulai terkantuk. Perlahan pertahanannyapun lemah, tubuh mulai bermanja-manja sayu. Tak sadar cengkeramannya pada batang pohon perlahan merenggang dan……… gubrrrraaaaaakkkk…. terhempas dari ketinggian pohon.

 

Ya Akhi.., Ya Ukhti.., cobaan, rintangan, ujian senantiasa merongrong kerja-kerja ini. Dan memang itulah tabiat dakwah. Takkan pernah lekang cobaan dan ujian itu. Namun yang perlu kita sadari bahwa tak selamanya ujian yang melanda tak segalanya ia merupakan ujian yang berat. Bahkan cobaan itu bisa berbentuk sesuatu yang sangat nikmat. Kita tak sadar akan ujian itu, sebab mungkin kita menganggapnya adalah sesuatu yang menyenangkan, hanyut kita dengannya, terpesona, hingga akhirnya kita lebur bersamanya. Bukankah sudah dianalogikan lewat cerita diatas. Boleh jadi ketika kita ditimpa ujian yang berat dalam dakwah ini, kita masih bisa istiqomah, bertahan. Tapi ketika ujian tersebut berbentuk sesuatu yang nikmat kita rasakan, menyenangkan. Jarang ada dari kita menyadarinya, bahkan dianggap sebagai berkah dakwah, padahal sejatinya musibah. Bolehlah saya pinjam istilah yang selama ini kita kenal yakni harta, tahta, wanita. Dan inilah yang pernah sangat ditangguhkan oleh Imam Ahmad yang ketika itu ditawari untuk tinggal di istana khalifah setelah Ia mengalami berbagai penyiksaan dari ayah sang khalifah, beliau justru berkata, “Saya telah bersabar dalam penyiksaan itu, tapi saya tidak menjamin bahwa saya bisa bertahan dalam dunia kemewahan.”

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu...”

(Q.S. Al-Baqarah : 216).

 

Ingatkah kita akan apa yang pernah dituturkan oleh almarhum syaikhul tarbiyah Ustadz Rahmat Abdullah dalam potongan dialek salah satu adegan film Sang Murobbi. Beliau mengatakan, “…kita ngapain dalam dakwah ini, kita cemplung habis-habisan, kita berjuang tiada lain hanya karena Allah. Kembali pada ash-sholah dakwah…”

 

Olehnya, ikhwatifillah, tiada lain gelora yang bertengger dijiwa ini selain mardhotillah, mengharapkan ridho Allah SWT.

 

Nantikan seri lanjutan dari buku ini……

 

  • Bismillah..
    ..sudah sekian lama kita retas…
    Ditunggu, ‘The Inspirator’nya :sun: yang mencerahkan :sun:

thời trang trẻ emWordpress Themes Total Freetư vấn xây nhàthời trang trẻ emshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữHouse Design Blog - Interior Design and Architecture Inspiration